Editorial oleh: Drs. Muz Latuconsina, MF.
Peran cepat dan strategis DPD I Golkar Maluku menjadi kunci utama dalam mengakhiri kebuntuan Musyawarah Daerah (Musda) VI Golkar Kabupaten Buru yang sebelumnya sempat mandek selama sepekan akibat deadlock. Melalui langkah terukur dan pendekatan rekonsiliatif, dinamika internal yang sempat memanas berhasil diredam, membuka jalan bagi terselenggaranya Musda lanjutan di Sekretariat Golkar Buru pada Sabtu (18/4/2026) dalam suasana yang lebih kondusif.
Dalam forum tersebut, M. Rum Soplestuny kembali terpilih sebagai Ketua DPD II Golkar Buru untuk periode berikutnya. Ia ditetapkan secara aklamasi setelah satu-satunya bakal calon pesaingnya, Jaidun Sa’anun, secara resmi menyatakan mundur dari kontestasi. Dalam kepengurusan baru, Jaidun dipercaya mengemban posisi sekretaris, sementara Amrullah Madani Hentihu menjabat sebagai bendahara.
Keputusan mundurnya Jaidun bukan sekadar langkah politis biasa, melainkan refleksi kematangan dalam berpolitik. Di tengah potensi persaingan yang tajam, ia memilih mengedepankan persatuan organisasi di atas kepentingan pribadi. Sikap ini menjadi titik balik yang memungkinkan proses pemilihan berjalan lancar dan tanpa hambatan.
Keberhasilan ini semakin menegaskan kuatnya peran DPD I Golkar Maluku sebagai motor penyelesaian konflik. Di bawah kepemimpinan Umar Lessy, dengan arahan R. Boy Sangadji, dukungan ketua harian Ridwan Rahman, serta kepemimpinan sidang oleh Burhan Latuconsina, kebuntuan yang sempat terjadi mampu diurai dengan pendekatan yang menyejukkan dan konstruktif. DPD provinsi tampil bukan sekadar sebagai pengawas, tetapi sebagai penentu arah yang menjaga keseimbangan dan soliditas organisasi.
Sebelumnya, dinamika internal yang cukup tajam sempat membuat Musda terhenti tanpa keputusan, memunculkan kekhawatiran akan berlarutnya konflik di tubuh partai. Namun melalui intervensi yang tepat waktu dan berorientasi pada persatuan, situasi berhasil dikendalikan dan diarahkan menuju kesepahaman bersama.
Terpilihnya kembali Soplestuny melalui aklamasi bukan sekadar hasil akhir, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk merangkul seluruh elemen partai. Tantangan ke depan adalah memperkuat konsolidasi internal dan memastikan bahwa dinamika yang sempat terjadi menjadi pelajaran berharga bagi perjalanan organisasi.
Musda VI Golkar Buru pada akhirnya menjadi bukti bahwa kepemimpinan yang responsif dan kedewasaan politik mampu mengubah krisis menjadi momentum. Dan dalam proses itu, DPD I Golkar Maluku tampil sebagai aktor kunci yang memastikan keutuhan dan masa depan partai tetap terjaga.