Ada kalanya sebuah khutbah Jumat bukan sekadar suara yang terdengar dari mimbar, lalu selesai ketika imam mengucapkan salam.
Ada khutbah yang meninggalkan pesan.
Ada khutbah yang mengetuk kesadaran.
Dan ada khutbah yang membuat kita bertanya kembali kepada diri sendiri: sebenarnya untuk apa kita datang ke masjid setiap Jumat?
Pertanyaan itulah yang terasa kuat dalam khutbah Kabag Jarlat SPN Polda Maluku, Kompol H. Akmil Djapa, saat menjadi khatib Jumat di Masjid Al-Iqra SPN Polda Maluku, Jumat (2/10/2026).
Dengan mengangkat tema pentingnya mendengarkan khutbah Jumat, H. Akmil Djapa mengajak jamaah untuk tidak memandang khutbah sebagai sekadar rangkaian kata sebelum shalat.
Sebab khutbah bukan acara pembuka.Bukan pula ceramah biasa yang boleh didengar sambil lalu.Khutbah adalah bagian dari ibadah Jumat.
Di sanalah manusia diingatkan ketika mulai lupa.Di sanalah hati yang keras diajak kembali lembut.
Di sanalah manusia yang terlalu sibuk mengejar dunia diajak sejenak menengok kehidupan akhirat.
Dan karena itulah, pesan H. Akmil Djapa menjadi penting untuk direnungkan.
Setiap Jumat manusia berbondong-bondong menuju rumah Allah. Ada yang berjalan kaki, ada yang menggunakan kendaraan. Ada yang meninggalkan pekerjaan, menghentikan perdagangan dan menunda berbagai urusan dunia.
Semua dilakukan karena memenuhi panggilan Allah.
Tetapi pertanyaannya:
Apakah kita datang hanya untuk mendapatkan dua rakaat shalat Jumat?
Ataukah kita datang untuk menjalankan seluruh rangkaian ibadah Jumat dengan penuh kesadaran, termasuk mendengarkan khutbah?
H. Akmil Djapa mengingatkan bahwa masih ada orang yang datang ke masjid ketika khutbah hampir selesai. Bahkan ada yang baru masuk setelah khatib turun dari mimbar.
Padahal, jika untuk urusan dunia kita mampu datang lebih awal karena takut kehilangan kesempatan, mengapa untuk mendengarkan nasihat yang berkaitan dengan keselamatan akhirat kita justru datang terlambat?
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah menuju mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.”
(QS. Al-Jumu’ah: 9)
Ayat itu seakan menjadi cermin bagi kita.
Ketika panggilan Jumat terdengar, dunia diminta berhenti sejenak.
Perdagangan ditinggalkan.Kesibukan ditangguhkan.Langkah diarahkan menuju masjid.
Dan hati dipersiapkan untuk menerima nasihat.
Sebab khutbah adalah momentum ketika manusia diingatkan tentang sesuatu yang sering terlupakan: bahwa hidup di dunia hanya sementara.
H. Akmil Djapa juga mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ sangat menekankan adab ketika khutbah berlangsung.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
“Jika engkau berkata kepada temanmu, ‘Diamlah,’ sementara imam sedang berkhutbah, maka sungguh engkau telah melakukan perbuatan sia-sia.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Satu kata saja untuk menegur orang lain agar diam, ketika khutbah sedang berlangsung, sudah diingatkan sebagai perbuatan sia-sia.
Lalu bagaimana dengan mereka yang sibuk berbicara?
Bagaimana dengan mereka yang duduk di luar masjid sambil bercengkerama ketika khutbah berlangsung?
Bagaimana dengan mereka yang sengaja datang setelah khutbah selesai?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menghakimi.Tetapi untuk mengoreksi diri.Sebab bisa jadi, kita semua pernah berada pada posisi yang sama.
Kita hadir secara fisik, tetapi pikiran kita masih berada di tempat lain.
Tubuh berada di masjid, tetapi hati masih sibuk dengan urusan dunia.
Telinga mendengar suara khatib, tetapi hati tidak benar-benar menangkap pesan yang disampaikan.
Padahal kita tidak pernah tahu dari mana hidayah akan datang.
Bisa jadi satu ayat yang terdengar dari mimbar menjadi titik balik kehidupan seseorang.
Bisa jadi satu hadis membuat seseorang meninggalkan dosa yang telah bertahun-tahun dilakukan.
Bisa jadi satu kalimat membuat seseorang kembali kepada keluarganya dengan hati yang lebih lembut.
Dan bisa jadi, nasihat yang kita anggap sederhana hari ini justru menjadi bekal ketika suatu saat kita berdiri sendirian di hadapan Allah.
Itulah mengapa khutbah tidak boleh diremehkan.
H. Akmil Djapa membawa jamaah untuk memahami bahwa datang ke masjid bukan sekadar memenuhi kewajiban formal.
Ada adab.Ada kesungguhan.Ada kesempatan untuk memperbaiki diri.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan keutamaan besar bagi orang yang mempersiapkan diri untuk Jumat, datang lebih awal, mendekat kepada imam, mendengarkan khutbah dan tidak melakukan perbuatan sia-sia.
Setiap langkah menuju masjid memiliki nilai pahala yang besar.
Subhanallah.
Allah bahkan memberikan ganjaran terhadap langkah kaki seorang hamba menuju rumah-Nya.
Maka tidak seharusnya kita justru kehilangan bagian dari kesempatan itu hanya karena terlambat datang.Jangan menunggu khutbah selesai baru masuk masjid.
Jangan menunggu khatib turun dari mimbar baru mencari tempat duduk.Jangan jadikan khutbah sekadar suara yang lewat di telinga.
Datanglah lebih awal.Persiapkan hati.Duduk dengan tenang.Diam ketika khatib berbicara.Dengarkan dengan sungguh-sungguh.Dan biarkan setiap nasihat masuk ke dalam hati.
Sebab Jumat bukan hanya tentang shalat.Jumat adalah kesempatan mingguan untuk memperbaiki arah kehidupan.
Dan pesan H. Akmil Djapa dari mimbar Masjid Al-Iqra SPN Polda Maluku pada Jumat itu seolah mengingatkan kita pada satu perkara yang sangat sederhana, tetapi sering dilupakan:
Jangan sampai kita begitu takut kehilangan kesempatan dunia, tetapi justru santai ketika kehilangan kesempatan mendengarkan nasihat Allah.
Sebab kita tidak pernah tahu.
Mungkin suatu hari nanti, kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk duduk di saf Jumat.
Mungkin khutbah yang kita dengarkan hari ini adalah khutbah terakhir dalam hidup kita.
Dan mungkin, setelah Jumat ini, nama kita dipanggil untuk menghadap Sang Pemilik kehidupan.Karena itu, mari datang kepada Jumat dengan hati yang lebih siap.
Bukan sekadar mengejar dua rakaat.Tetapi mencari pengingat.Mencari ampunan.Mencari petunjuk.Dan mencari jalan pulang kepada Allah.
Pesan H. Akmil Djapa sederhana, tetapi dalam: jangan datang terlambat kepada nasihat Allah.