‎FEATURE: Derak Rebah Torem dan Riwayat Luka di Bumi Yamdena

Saumlaki,mediaistana.com -Di balik lebatnya vegetasi Pulau Yamdena, gemuruh mesin pemotong kayu beradu nyaring dengan desir angin Pasifik. Pohon Torem (Manilkara kanosiensis)-pohon endemik langka yang di dunia konon hanya tumbuh di bumi Kepulauan Tanimbar dan belantara Brazil-kembali tumbang.

‎Kayunya yang amat padat, tahan air, dan legendaris itu diseret melewati jalan-jalan tanah berdebu, dinaikkan ke kapal angkut, lalu berlayar meninggalkan pelabuhan.

Namun, di perkampungan warga yang bersisian langsung dengan konsesi hutan, ritme kehidupan hampir tak bergeser selama tiga dekade. Hutan dipanen, kapal berlayar membawa kayu gelondongan, tetapi garis kemiskinan dan ketimpangan ekonomi lokal tetap bertahan di tempat yang sama.

Lantas timbul pertanyaan yang kian mengendap di benak warga: Ketika kayu-kayu terbaik itu pergi, apa yang benar-benar tersisa untuk Tanimbar?

‎​Tiga Dekade Eksploitasi dan Bayang-Bayang Ketimpangan.

Kisah pemanfaatan hasil hutan di Kepulauan Tanimbar bukanlah cerita baru.

Selama lebih dari 30 tahun, kayu Tanimbar dieksploitasi untuk menyokong kebutuhan industri di luar daerah. Namun, besarnya volume kayu mentah yang diproduksi tidak berbanding lurus dengan hadirnya industri hilir di Saumlaki atau desa-desa sekitar kawasan hutan.

‎​Pola eksploitasi berbasis komoditas mentah ini menempatkan Tanimbar sekadar sebagai lumbung pasokan. Nilai tambah ekonomi (value-added)-seperti pengolahan lanjutan, penerapan teknologi modern, penyerapan tenaga kerja terampil, hingga margin keuntungan perdagangan terbesar-seluruhnya terserap di luar daerah.

Masyarakat adat yang hidup bertetangga dengan kawasan hutan justru kerap hanya menjadi penonton. Mereka harus menanggung beban kerusakan lingkungan, potensi kekeringan sumber air, hingga perubahan struktur sosial tanpa pernah menikmati hadirnya pabrik pengolahan lokal, koperasi yang berdaya, maupun terbukanya peluang lapangan kerja yang luas bagi generasi muda Tanimbar.

September 2026: Gelombang Perlawanan dari Yamdena

‎​Akar ketimpangan ini akhirnya memicu kulminasi kemarahan publik. Pada 28 September 2026, gelombang penolakan masif pecah di Saumlaki.

Ratusan warga yang tergabung dalam Forum Save Hutan Yamdena-meliputi tokoh adat dari enam desa di Kecamatan Wertamrian, tokoh agama, keterwakilan perempuan, elemen pemuda, hingga aktivis lingkungan-menerobos halaman Kantor Bupati dan DPRD Kepulauan Tanimbar.

‎​Massa melontarkan tuntutan tegas: evaluasi total dan pencabutan izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) milik PT Karya Jaya Berdikari (KJB). Mereka meminta penghentian sementara seluruh aktivitas penebangan serta pengangkutan kayu sampai ada kepastian hukum, perlindungan hak-hak masyarakat adat, dan jaminan kelestarian lingkungan.

‎​”Kami tidak menolak pembangunan, tetapi kami menolak pola pengerukan yang memiskinkan warga adat di tanahnya sendiri,” tegas salah seorang perwakilan massa aksi di depan gedung dewan.

‎Aksi ini menjadi penanda bahwa persoalan kehutanan di Tanimbar telah bergeser dari isu ekologi semata menjadi perlawanan atas ketidakadilan tata kelola ekonomi.

Mengunci Nilai Tambah di Bumi Duan Lolat

Ironi kayu Torem dan berbagai hasil hutan Tanimbar sebenarnya menyimpang dari esensi investasi pembangunan.

‎Torem, yang pada 2017 telah terdaftar sebagai pohon endemik dalam koleksi Kebun Raya Bogor dan kerap dipamerkan sebagai bahan kerajinan bernilai tinggi, seharusnya menjadi modal dasar lahirnya ekosistem ekonomi kreatif dan industri pengolahan kayu lokal berskala nasional.

‎​Untuk memutus mata rantai eksploitasi mentah ini, perbaikan tata kelola membutuhkan langkah nyata berbasis data yang transparan:

‎​Transparansi Perizinan dan Konsesi: Pemerintah Pusat dan Daerah wajib membuka dokumen izin, kuota penebangan tahunan, hingga kepatuhan kewajiban rehabilitasi lahan secara akuntabel.

‎​Mandat Hilirisasi Lokal: Pemegang izin usaha pemanfaatan hutan tidak boleh lagi diizinkan mengirim kayu bulat (gelondongan) ke luar daerah tanpa membangun fasilitas pengolahan di Tanimbar.

‎​Kemitraan Masyarakat Adat dan UMKM: Koperasi adat serta pengusaha tempatan harus dilibatkan langsung dalam rantai pasok pascapanen dan industri kerajinan bernilai tambah tinggi.

‎​Penyerapan Tenaga Kerja Tempat: Tenaga kerja lokal harus mendapatkan sertifikasi dan pelatihan teknologi pengolahan agar tidak sekadar menjadi kuli kasar.

Membangun Masa Depan, Bukan Sekadar Menghitung Kayu

Kepulauan Tanimbar yang dijuluki bumi Duan Lolat kini berada di persimpangan jalan. Keberlanjutan investasi tidak boleh lagi diukur semata dari seberapa banyak metrik kubik kayu yang berlayar lewat pelabuhan atau besarnya penerimaan di atas kertas administrasi semata.

‎​Ukuran keberhasilan pembangunan yang sejati terletak pada seberapa banyak anak-anak Tanimbar yang terserap di industri lokal, seberapa mandiri ekonomi desa-desa sekitar hutan, dan seberapa utuh fungsi ekologis hutan diwariskan kepada generasi mendatang.

Tiga dekade sudah cukup menjadi pelajaran pahit. Ketika pohon demi pohon terus ditumbangkan, yang dipertaruhkan bukan sekadar komoditas kayu, melainkan kedaulatan ekonomi dan masa depan manusia yang hidup di atas tanah Tanimbar.

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!