Saumlaki,mediaistana.com -Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) kembali membangkitkan ingatan publik mengenai salah satu proyek ikonik yang tertunda: pembangunan Patung/Tugu Pendiri KKT, S.J. Oratmangun.
Proyek monumental ini tak sekadar menyoal penghormatan kepada tokoh pendiri daerah. Di balik rencana estetikanya, publik Tanimbar mencatat jejak kelam berupa polemik penolakan pihak keluarga hingga masalah pengelolaan anggaran.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sekitar 30 persen anggaran dilaporkan telah dicairkan pada era kepemimpinan mantan Bupati Petrus Fatlalon, sebelum akhirnya penanganan kasus tersebut sempat bergulir ke Kejaksaan Tinggi Maluku.
Di tengah teka-teki keberlanjutan proyek tersebut, publik mempertanyakan kejelasan status hukum, transparansi audit keuangan, serta kepastian langkah pemerintah daerah. Apakah wacana ini akan dilanjutkan dengan pola lama, ataukah lahir konsep anyar yang lebih transparan dan inklusif?
Sikap Profesional dan Catatan Kolektif Keluarga Pendiri Kabupaten.
Saat ditemui di Hotel Beringin Dua, Saumlaki, Senin (5/10/2026), dua putra pendiri Maluku Tenggara Barat yang diubah menjadi KKT: Duta Besar RI untuk RRT dan Mongolia Djauhari Oratmangun serta politisi/tokoh Tanimbar Dharma Oratmangun-memilih bersikap lugas dan profesional merespons wacana tugu tersebut.
Djauhari Oratmangun memilih menyerahkan seluruh dinamika penetapan ikon daerah kepada aspirasi penuh masyarakat Tanimbar.
“Itu biar masyarakat saja. Saya hadir sebagai Duta Besar. Masalah sejarah, biarlah masyarakat saja. Karena itu kan hubungan pribadi, jadi lebih baik saya yang profesional,” tegas Djauhari.
Senada dengan sang kakak, Dharma Oratmangun menekankan pentingnya meluruskan narasi sejarah perjuangan Tanimbar tanpa jebakan kultus individu.
”Kalau ada niat baik untuk menghargai sebagai pejuang, tentu baik. Tetapi keluarga tidak dalam posisi untuk dikultuskan. Catatan sejarah harus disampaikan kepada publik secara utuh bahwa ini adalah perjuangan kolektif banyak tokoh,” kata Dharma.
Menautkan Potensi Lokal dan Peluang Indonesia-Tiongkok
Alih-alih terjebak pada polemik masa lalu, kehadiran Djauhari Oratmangun beserta rombongan pengusaha Tiongkok dalam perayaan HUT KKT membawa angin segar bagi transformasi ekonomi Tanimbar.
Sektor laut, industri kreatif, seni budaya, hingga proyek strategis seperti Blok Masela dinilai menjadi fondasi utama pembangunan masa depan KKT.
Kerja sama konkret bahkan langsung ditunjukkan melalui rencana sumbangan 100 tiang lampu penerangan jalan berbasis tenaga surya (solar panel) untuk Kota Saumlaki. Pendekatan anyar ini membuktikan bahwa diplomasi budaya dan ekonomi-termasuk peluang investasi dengan Tiongkok, dapat didorong menjadi aksi nyata yang menyentuh kebutuhan langsung masyarakat.
Catatan Kritis Redaksi: 5 Ujian Bagi Pemerintah Daerah KKT
Agar rencana penghormatan terhadap pendiri daerah tidak kembali menemui jalan buntu atau terjerat hukum, pemerintah daerah KKT berhadapan dengan sejumlah pekerjaan rumah utama:
Kepastian Legalitas dan Legal Audit: Mengurai secara tuntas penanganan hukum di Kejaksaan Tinggi Maluku serta melakukan audit transparan atas realisasi pencairan anggaran 30 persen di masa lalu.
Komunikasi Resmi dengan Keluarga dan Tokoh Masyarakat: Membangun dialog terbuka terkait desain, hak cipta sejarah, hingga penetapan lokasi agar tidak memicu penolakan ulang dari ahli waris.
Redefinisikan Konsep Monumen: Mengubah paradigma tugu dari sekadar bangunan fisik statis menjadi kawasan ruang publik, pusat edukasi sejarah, dan daya tarik pariwisata berbasis ekonomi kreatif.
Sinergi Diplomasi Global: Memanfaatkan momentum hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok untuk membuka peluang investasi kawasan heritage dan energi terbarukan di Saumlaki.
Target dan Roadmap Jelas: Memberikan lini masa (timeline) yang pasti kepada publik Tanimbar mengenai kapan kepastian tata kelola monumen sejarah tersebut dapat terwujud.