JAKARTA — Pendidikan yang berkualitas tidak hanya dibangun melalui ruang kelas yang nyaman, buku-buku pelajaran, dan tenaga pendidik yang berdedikasi. Ada hal mendasar yang kerap luput dari perhatian, tetapi memiliki arti besar bagi tumbuh kembang anak: toilet sekolah yang bersih, sehat, dan layak digunakan.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Yayasan Persada Moro 38 menggagas Gerakan Toilet Sekolah Bersih, sebuah gerakan sosial yang berfokus pada pembangunan dan renovasi fasilitas sanitasi di taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD). Lebih dari sekadar memperbaiki bangunan, gerakan ini membawa misi menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat sejak usia dini sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bermartabat bagi anak-anak Indonesia.
Yayasan yang dibentuk oleh alumni Akademi TNI Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-38 tahun 1992 tersebut telah menjalankan program pembangunan dan renovasi toilet di sejumlah sekolah di berbagai daerah.
Langkah ini menjadi wujud kepedulian terhadap kebutuhan dasar siswa sekaligus kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas lingkungan pendidikan.
Gerakan ini diawali dengan renovasi toilet di SDN 02 Sukajadi Cisayong, Tasikmalaya, dan SDN Babakan Anyar 1 Kadipaten, Majalengka.
Program kemudian menjangkau sejumlah sekolah lainnya, yakni SD Hangtuah 3 Rawa Bambu dan SD Hangtuah 4 Cipulir di Jakarta Selatan, SD Hangtuah 8 Kodamar di Jakarta Utara, SD Hangtuah 2 Titipapan di Medan, SD Hangtuah 1 Belawan, SD Hangtuah Makassar, TK Hangtuah 2 Surabaya, serta TK Hangtuah IV Pontianak.
Selain sekolah-sekolah tersebut, yayasan juga tengah menjalankan proses pembangunan dan renovasi fasilitas toilet di sejumlah sekolah lain di Jakarta, Tasikmalaya, Salatiga, dan Kupang. Upaya ini diharapkan terus berkembang sehingga semakin banyak anak memperoleh akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak.
Bukan Sekadar Membangun Toilet
Ketua Pembina Yayasan Persada Moro 38, Laksamana Madya TNI Ahmad Wibisono, S.E., CHRMP., mengatakan Gerakan Toilet Sekolah Bersih merupakan bentuk karya bakti sekaligus kepedulian terhadap kebutuhan dasar anak-anak di lingkungan pendidikan.
“Anak-anak kita sejak usia dini harus didekatkan dengan pola hidup yang bersih dan sehat. Mereka harus terbiasa dengan lingkungan yang bersih sebagai modal dalam kehidupan ke depan,” kata Ahmad Wibisono.
Menurut dia, penyediaan toilet yang layak tidak semata-mata berkaitan dengan perbaikan fisik bangunan. Lebih dari itu, fasilitas sanitasi dapat menjadi bagian dari proses pendidikan karakter, terutama dalam membangun kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Anak-anak perlu dibiasakan menggunakan toilet dengan benar, menjaga kebersihannya setelah digunakan, menggunakan air secara bijak, serta memahami bahwa fasilitas bersama harus dirawat demi kepentingan semua orang.
Dengan pembiasaan tersebut, sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kebiasaan baik yang akan terbawa hingga anak-anak dewasa.
Ahmad Wibisono menambahkan, perhatian terhadap pendidikan dasar merupakan salah satu bentuk kontribusi alumni AAL angkatan 1992 kepada bangsa dan negara.
“Yayasan Persada Moro 38 merasa peduli untuk berbuat sesuatu kepada bangsa melalui perhatian pada sekolah dasar. Semoga apa yang kami lakukan ini bermanfaat,” ujarnya.
Mebersihan Membutuhkan Perawatan dan Kepedulian Bersama
Yayasan Persada Moro 38 memahami bahwa keberhasilan gerakan sanitasi sekolah tidak cukup diukur dari jumlah toilet yang dibangun atau direnovasi. Fasilitas yang baik membutuhkan pemeliharaan rutin agar tetap berfungsi, bersih, dan nyaman digunakan dalam jangka panjang.
Karena itu, keterlibatan kepala sekolah, guru, siswa, petugas kebersihan, dan orang tua menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program.
Sekolah diharapkan membangun kebiasaan sederhana, seperti membersihkan toilet setelah digunakan, tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air, serta segera melaporkan kerusakan fasilitas agar dapat ditangani.
Kebiasaan tersebut perlu diperkuat melalui edukasi yang berkesinambungan sehingga kebersihan tidak hanya menjadi kewajiban petugas, tetapi tumbuh sebagai kesadaran seluruh warga sekolah.
Pendekatan ini menempatkan sanitasi dan pendidikan karakter dalam satu kesatuan. Toilet yang bersih menjadi sarana pendukung kesehatan, sementara perilaku menjaga kebersihan menjadi pelajaran tentang tanggung jawab dan penghormatan terhadap hak orang lain.
Sebab, lingkungan sekolah yang sehat tidak hanya ditentukan oleh fasilitas yang tersedia, tetapi juga oleh kebiasaan orang-orang
yang menggunakannya.
Membuka Ruang Kolaborasi untuk Memperluas Manfaat
Ketua Yayasan Persada Moro 38, Laksamana Pertama TNI (Purn) Priyo Budi Leksono, S.E., M.M., mengatakan Gerakan Toilet Sekolah Bersih dirancang sebagai program sosial berkelanjutan yang membutuhkan dukungan dan partisipasi berbagai pihak.
Menurut dia, upaya memperluas jangkauan program tentu menghadapi tantangan, baik dari sisi kebutuhan material, perlengkapan sanitasi, maupun dukungan untuk menjangkau lebih banyak sekolah penerima manfaat.
“Sebagai program berkelanjutan dalam menghadirkan fasilitas sanitasi yang layak di sekolah-sekolah, tentunya tidak terlepas dari kendala, sehingga gerakan sosial ini membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak,” kata Priyo Budi.
Ia menjelaskan, peluang partisipasi terbuka bagi masyarakat, dunia usaha, lembaga sosial, dan pihak-pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan.
Dukungan dapat diberikan dalam bentuk material bangunan, perlengkapan sanitasi, maupun bantuan lain yang sesuai dengan kebutuhan sekolah.
“Partisipasi tersebut sangat membantu memperluas jumlah sekolah penerima manfaat, mempercepat renovasi fasilitas yang membutuhkan perbaikan, serta mendukung edukasi kebersihan bagi para siswa,” ujarnya.
Melalui kolaborasi tersebut, yayasan berharap gerakan ini tidak berhenti pada sejumlah sekolah yang telah menerima manfaat, tetapi tumbuh menjadi gerakan bersama yang menjangkau lebih banyak daerah dan anak-anak Indonesia.
Deklarasi Gerakan Toilet Sekolah Bersih
Sebagai bagian dari upaya memperkenalkan gerakan kepada masyarakat secara lebih luas, Yayasan Persada Moro 38 merencanakan Deklarasi Gerakan Toilet Sekolah Bersih pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di SD Hangtuah 4 Cipulir, Jakarta Selatan.
Kegiatan tersebut direncanakan sekaligus menjadi momentum penyerahan penggunaan fasilitas toilet bersih kepada sekolah-sekolah penerima manfaat.
Gerakan ini mengusung tagline “Toilet Bersih, Sekolah Sehat, Anak Indonesia Cerdas”.
Slogan tersebut mengandung pesan bahwa kesehatan dan kebersihan lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya membangun kualitas pendidikan dan mendukung tumbuh kembang anak.
Pada akhirnya, toilet sekolah yang bersih mungkin tampak sebagai fasilitas sederhana. Namun, di baliknya terdapat nilai yang jauh lebih besar: perlindungan kesehatan anak, pembentukan karakter, penghormatan terhadap martabat siswa, serta penciptaan lingkungan belajar yang lebih manusiawi.
Melalui Gerakan Toilet Sekolah Bersih, Yayasan Persada Moro 38 berharap semakin banyak sekolah memiliki fasilitas sanitasi yang layak dan semakin banyak anak terbiasa menerapkan pola hidup bersih dan sehat sejak dini.
Sebab, membangun masa depan bangsa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, perubahan bermakna justru berawal dari hal sederhana: sebuah toilet yang bersih, kebiasaan menjaga lingkungan, dan kepedulian bersama terhadap masa depan anak-anak Indonesia.