Mediaistana.com – Tangerang, 17 April 2026 — Publik dibuat geram. Dugaan praktik kotor dalam penyaluran BBM subsidi di SPBU Jurumudi Baru, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, mencuat ke permukaan dengan temuan yang sulit diterima akal sehat.
Bagaimana mungkin sepeda motor diisi BBM hingga 15 liter liter bahkan tembus 24 liter? Fakta di lapangan ini bukan sekadar janggal—ini alarm keras adanya dugaan permainan di balik distribusi BBM subsidi.
Bukan Sekadar Error, Ini Diduga “Permainan”
Tim investigasi menemukan pola yang tak bisa dianggap kebetulan.
Pengisian dalam jumlah tak wajar terjadi berulang, dengan indikasi kendaraan yang telah dimodifikasi dan dugaan keterlibatan oknum operator.
Pertanyaannya sederhana tapi tajam:
siapa yang diuntungkan dari praktik ini?
BBM subsidi seharusnya untuk rakyat kecil. Namun jika dugaan ini benar, maka ada pihak-pihak yang diduga menjadikannya ladang keuntungan pribadi.
CCTV Jadi Kunci: Dibuka atau Disembunyikan?
Sorotan kini mengarah ke satu hal penting: rekaman CCTV.
Di sanalah semua jejak transaksi terekam.
Publik menuntut:
Buka rekaman CCTV tanpa rekayasa
Tunjukkan siapa saja yang terlibat
Hentikan praktik yang merugikan masyarakat
Jika tidak ada yang disembunyikan, mengapa harus diam?
Diamnya Pengelola, Memantik Kecurigaan
Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak SPBU.
Diamnya pihak terkait justru memperbesar tanda tanya.
Apakah ini kelalaian?
Atau memang ada sesuatu yang sengaja ditutup rapat?
Aparat Jangan Tunggu Viral Lebih Besar
Kasus ini sudah cukup untuk menjadi perhatian serius.
Namun jika tidak segera ditindak, publik bisa kehilangan kepercayaan.
Jangan sampai hukum terlihat tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas.
Ancaman Hukum Tak Main-main
Jika terbukti, pelaku dapat dijerat:
UU Migas
UU Metrologi Legal
UU Perlindungan Konsumen
Dengan ancaman hingga 6 tahun penjara dan denda puluhan miliar rupiah.
Ini Bukan Sekadar Berita, Ini Ujian Keberpihakan
Kasus ini bukan hanya soal BBM.
Ini tentang keadilan, tentang hak masyarakat, dan tentang keberanian menindak praktik curang.
Publik menonton.
Publik menilai.
Dan publik menunggu—siapa yang berani bertindak?
Mediaistana.com
Red : David