Editorial Redaksi
Ada hari-hari yang tidak sekadar dirayakan dengan seremoni. Ada pula pakaian yang tidak sekadar dikenakan sebagai busana. Ketika Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa bersama istri menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun Provinsi Maluku dengan mengenakan pakaian adat KKT, sesungguhnya ada pesan kebudayaan yang sedang disampaikan: bahwa membangun Maluku tidak boleh tercerabut dari akar adat dan tradisinya.
Tanggal 19 Agustus memiliki makna tersendiri bagi Maluku. Ia hadir hanya dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Di tengah semangat kemerdekaan bangsa yang baru lahir, Maluku kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia sebagai sebuah provinsi.
Karena itu, peringatan HUT Provinsi Maluku bukan hanya tentang bertambahnya usia pemerintahan. Ia adalah kesempatan untuk kembali mengingat siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai-nilai apa yang harus kita wariskan kepada generasi berikutnya.
Pakaian adat KKT yang dikenakan Gubernur bersama istri dalam momentum tersebut menjadi simbol yang indah.
Ia seakan mengatakan bahwa adat bukan ornamen, tradisi bukan sekadar kenangan, dan budaya bukan hanya untuk dipamerkan ketika ada perayaan.
Adat adalah identitas.
Tradisi adalah akar.
Dan kebudayaan adalah kekuatan yang membuat sebuah negeri tetap mengenali dirinya sendiri di tengah perubahan zaman.
Keputusan menghadirkan pakaian adat KKT dalam momentum penting daerah juga dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat dan kekayaan budaya yang hidup di Maluku. Setiap wilayah memiliki cerita, simbol, bahasa budaya, pakaian, tarian, musik, serta tata nilai yang lahir dari perjalanan panjang leluhurnya.
Karena itu, jika hari ini pakaian adat KKT mendapat ruang untuk tampil dalam panggung kehormatan pemerintahan daerah, maka ke depan semestinya ruang yang sama juga diberikan kepada pakaian adat dari berbagai negeri dan wilayah lain di Maluku.
Hari ini KKT, esok Maluku Tenggara, Buru, Seram, Ambon, Lease, Aru, Tanimbar, Maluku Barat Daya, dan seluruh kekayaan adat Maluku lainnya mendapat tempat yang sama.
Sebab Maluku tidak dibangun dari satu warna budaya.
Maluku adalah rumah besar yang berdiri di atas begitu banyak akar adat.
Di sanalah letak keindahannya.
Pemimpin yang mencintai daerahnya bukan hanya pemimpin yang berbicara tentang pembangunan jalan, pelabuhan, pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Ia juga harus mampu menjaga sesuatu yang tidak dapat diukur dengan angka: jati diri masyarakatnya.
Pembangunan yang maju tetapi kehilangan identitas akan terasa kosong.
Modernisasi yang tidak disertai penghormatan terhadap adat dapat membuat generasi muda mengenal dunia, tetapi lupa mengenal rumahnya sendiri.
Karena itu, kebijakan pembangunan dan kebijakan kebudayaan seharusnya berjalan beriringan.
Maluku membutuhkan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan ingatan.
Maluku membutuhkan investasi, tetapi juga membutuhkan identitas.
Maluku membutuhkan kemajuan, tetapi tidak boleh kehilangan adat.
Di sinilah pakaian adat menjadi lebih dari sekadar kain dan motif. Ia menjadi bahasa simbolik seorang pemimpin kepada rakyatnya: bahwa setiap negeri, setiap komunitas, dan setiap warisan leluhur memiliki tempat dalam rumah besar bernama Maluku.
HUT Provinsi Maluku ke-78? Bukan sekadar angka yang bertambah di kalender. Ia adalah perjalanan panjang yang harus terus diisi dengan kerja, persatuan, penghormatan terhadap sejarah dan keberanian menatap masa depan.
Dan mungkin, dari sebuah pakaian adat yang dikenakan pada sebuah upacara, kita belajar satu hal sederhana tetapi penting:
Kemajuan tidak harus membuat kita meninggalkan akar.
Justru karena memiliki akar yang kuat, sebuah pohon mampu tumbuh semakin tinggi.
Begitu pula Maluku.
Biarlah negeri ini tumbuh dengan pembangunan yang modern, tetapi tetap berwajah adat. Biarlah pemerintahan bergerak dengan visi masa depan, tetapi tetap berpijak pada kearifan leluhur.
Sebab pada akhirnya, membangun Maluku bukan hanya tentang bagaimana kita ingin dilihat oleh dunia.
Tetapi juga tentang bagaimana anak cucu kita kelak masih mampu mengenali wajah Maluku dari warisan yang kita jaga hari ini.
Selamat HUT Provinsi Maluku.Dari KKT untuk Maluku.Dari adat untuk pembangunan.
Dan dari akar tradisi, kita menatap masa depan dengan kepala tegak sebagai satu Maluku—Siwalima.
(Mus Latuconsina)