Kepala SD Negeri 4 Air Buaya, La Saeni, memberikan penjelasan terkait pemberitaan mengenai anggaran proyek revitalisasi sekolah yang berlokasi di Dusun Wailanga, Desa Selwadu, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, Maluku.
La Saeni membantah dugaan adanya mark-up anggaran dalam pelaksanaan proyek tersebut. Ia menjelaskan, besaran anggaran yang diterima mengalami penyesuaian dari usulan awal setelah adanya kebijakan efisiensi anggaran dari kementerian.
Menurut La Saeni, pada tahap pengusulan, tingkat kerusakan bangunan sekolah seharusnya masuk kategori rehabilitasi berat dengan persentase sekitar 70 persen.
Namun, dalam penetapan anggaran, persentase tersebut disebut turun menjadi 45 persen.
“Awalnya kami tidak mau menerima karena biaya yang diberikan dinilai tidak sesuai dengan tingkat kerusakan bangunan. Namun, saat itu konsultan menyarankan agar anggaran tersebut diterima terlebih dahulu, dengan penjelasan bahwa anggaran akan disesuaikan,” jelas La Saeni. Rabu, (28/10/2026)
Ia menerangkan, dalam usulan awal, biaya untuk satu ruangan diperkirakan berkisar Rp 170 juta. Akan tetapi, setelah penyesuaian oleh kementerian dengan alasan efisiensi anggaran, nilainya turun menjadi sekitar Rp 114 juta per ruangan.
Anggaran mencakup sejumlah pekerjaan fisik
La Saeni menjelaskan, pekerjaan revitalisasi tersebut tidak hanya mencakup ruang kelas, tetapi juga sejumlah fasilitas penunjang kegiatan belajar-mengajar.
Ruang lingkup pekerjaan meliputi enam ruang kelas, satu ruang perpustakaan, tiga ruang toilet atau WC, pagar sekolah sepanjang 31 meter, serta lapangan upacara berukuran 15 x 20 meter.
Ia menyebutkan, anggaran untuk tiga ruang WC sekitar Rp 21 juta, pembangunan pagar sekolah sepanjang 31 meter sekitar Rp 50 juta, sedangkan lapangan upacara dialokasikan sekitar Rp 50 juta.
Menurutnya, anggaran pekerjaan fisik enam ruang kelas, satu ruang perpustakaan, dan tiga ruang WC mencapai sekitar Rp 814 juta.
Sementara itu, pekerjaan pagar dan lapangan upacara disebut dialokasikan sekitar Rp 100 juta.
La Saeni juga menjelaskan bahwa total anggaran proyek tidak seluruhnya digunakan untuk pekerjaan fisik. Di dalamnya terdapat sejumlah komponen biaya lain, seperti pengawasan, perencanaan, manajemen, dan transportasi.
Progres pekerjaan disebut mencapai 65 persen
Terkait perkembangan proyek, La Saeni menyatakan bahwa pekerjaan masih berlangsung dan progresnya saat ini diperkirakan mencapai 65 persen.
Ia menambahkan, dana yang telah dicairkan baru sekitar 70 persen dari total anggaran, sehingga pelaksanaan pekerjaan masih berada dalam tahap penyelesaian.
“Pekerjaan masih berjalan. Progresnya sekitar 65 persen dan dana yang baru cair sekitar 70 persen. Jadi, tidak benar jika langsung disimpulkan telah terjadi mark-up anggaran,” tegasnya.
Transparansi anggaran tetap penting
Penjelasan kepala sekolah tersebut menjadi bagian dari klarifikasi atas sorotan publik terhadap pelaksanaan proyek revitalisasi SD Negeri 4 Air Buaya.
Meski pihak sekolah telah membantah dugaan mark-up, keterbukaan informasi mengenai nilai kontrak, rincian Rencana Anggaran Biaya (RAB), volume pekerjaan, spesifikasi material, serta realisasi penggunaan dana tetap penting untuk memastikan kesesuaian antara anggaran dan pekerjaan di lapangan.
Pemeriksaan dokumen serta pengecekan fisik oleh pihak berwenang, apabila diperlukan, dapat membantu memberikan gambaran yang objektif mengenai pelaksanaan proyek tersebut.
Hingga pekerjaan selesai, masyarakat berhak memperoleh informasi yang jelas mengenai penggunaan anggaran pendidikan. Di sisi lain, setiap dugaan penyimpangan harus didasarkan pada bukti dan hasil pemeriksaan, bukan semata-mata pada penilaian awal.
Dengan demikian, klarifikasi La Saeni perlu menjadi bagian dari pemberitaan yang berimbang, sembari tetap membuka ruang bagi verifikasi independen atas dokumen anggaran dan hasil pekerjaan di SD Negeri 4 Air Buaya.