Jakarta, Mediaistana.com
Relawan Perempuan dan Anak (RPA) Indonesia menyampaikan duka cita mendalam atas tragedi kecelakaan kereta api yang terjadi di Bekasi. Melalui Ketua Umum Jeannie Latumahina, RPA Indonesia turut berbelasungkawa kepada seluruh keluarga korban dan korban luka.
Pagi itu rel masih sama, menanti roda yang setia berputar. Tapi gangguan operasional sebentar saja, jerit besi beradu, tabrakan maut tak terelakkan. Suara benturan menggema di langit Bekasi, dunia pun gemetar, tulis RPA Indonesia dalam pernyataan resmi, Kamis (30/4/2026).
Tragedi itu menyisakan duka mendalam. Di gerbong ada tawa yang belum selesai, doa yang baru setengah dilafal, dan rencana pulang yang kini tinggal janji. Bekasi menangis tanpa suara. Sirene meraung memecah udara. Ada nama-nama yang tak sempat pulang, ada rumah yang pintunya tak lagi diketuk sayang, lanjut pernyataan tersebut.
Ketua Umum RPA Indonesia Jeannie Latumahina mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, ketabahan, dan penghiburan. Ia juga mendoakan para korban yang berpulang agar mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Tuhan, jika Engkau hitung air mata, cukupkah untuk menukar luka mereka? Peluk yang pergi dalam damai-Mu, kuatkan yang tinggal dengan kasih setia-Mu, ucapnya.
RPA Indonesia menegaskan tragedi ini menjadi pengingat bahwa hidup hanya sekejap di peron dunia. Kereta sejati telah menanti di surga. Dan bagi yang ditinggal: di ujung rel yang patah, masih ada pagi, tutup Jeannie.
RPA Indonesia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk sejenak menundukkan kepala, mengirim doa, dan mengulurkan solidaritas bagi para korban dan keluarga. Dukungan moril dan spiritual dinilai penting untuk melewati masa duka ini.