Di setiap tanah rantau, orang Minangkabau selalu membawa dua bekal yang tak pernah habis dimakan waktu: adat dan persaudaraan. Ke mana pun kaki melangkah, sejauh apa pun jarak memisahkan dari kampung halaman, nilai-nilai itu tetap hidup dalam ingatan dan tindakan.
Sebab bagi orang Minang, merantau bukan sekadar berpindah tempat mencari penghidupan, melainkan juga membawa marwah keluarga, adat, dan nama baik kampung halaman.
Nilai itulah yang terasa kuat dalam Musyawarah Daerah Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM) Kabupaten Buru dan Kabupaten Buru Selatan yang berlangsung di Namlea, Sabtu (4/7/2026).
Dari forum yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan itu, lahirlah amanah baru kepada Sunardi Idris untuk menakhodai IKM selama lima tahun ke depan.
Terpilihnya Sunardi bukan sekadar pergantian kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, ia menjadi simbol berlanjutnya ikatan batin antara ranah Minang dengan Pulau Buru, tanah yang selama puluhan tahun menjadi rumah bagi banyak keluarga Minangkabau.
Dalam tradisi Minangkabau dikenal sebuah petuah yang selalu diwariskan dari generasi ke generasi: “Dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang.” Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sebuah pesan yang mengajarkan bahwa perantau harus menghormati adat, budaya, dan masyarakat tempat mereka hidup, tanpa melupakan akar identitas yang diwariskan leluhur.
Karena itulah, organisasi seperti IKM memiliki makna yang jauh melampaui urusan administrasi dan kepengurusan. Ia adalah rumah bersama. Tempat orang-orang yang berasal dari satu akar budaya saling menguatkan, saling membantu, dan menjaga tali silaturahmi agar tidak putus oleh jarak maupun waktu.
Sunardi Idris memahami betul makna itu. Meski lahir dan besar di Pulau Buru, darah Minangkabau yang mengalir dari garis ayahnya menjadi pengikat emosional yang kuat terhadap warisan budaya tersebut. Amanah yang diterimanya bukan sekadar jabatan, melainkan panggilan untuk merawat hubungan kekeluargaan yang telah dibangun para pendahulu.
Orang Minang di rantau memiliki falsafah yang sederhana namun mendalam: “Sakik samo mangaduh, sanang samo balabuah.” Sakit sama mengadu, senang sama berbagi. Dalam ungkapan itu tersimpan semangat gotong royong yang menjadi kekuatan utama masyarakat Minangkabau di mana pun mereka berada.
Di tanah rantau, kekuatan terbesar bukanlah harta atau jabatan, melainkan kebersamaan. Ketika ada keluarga yang tertimpa musibah, semua hadir membantu. Ketika ada yang berhasil, semua ikut bersyukur. Ketika ada generasi muda yang membutuhkan dukungan pendidikan atau pekerjaan, tangan-tangan persaudaraan terbuka untuk menolong. Itulah wajah sesungguhnya dari kehidupan orang Minangkabau di perantauan.
Pulau Buru sendiri telah lama menjadi ruang hidup yang harmonis bagi berbagai suku dan budaya. Di tengah kemajemukan itu, masyarakat Minangkabau tumbuh sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, dan keagamaan. Mereka berdagang, mengajar, berdakwah, menjadi aparatur negara, hingga berkontribusi dalam berbagai sektor pembangunan daerah.
Karena itu, kepemimpinan baru di tubuh IKM Buru dan Buru Selatan membawa harapan agar semangat persaudaraan tidak hanya dirasakan di internal warga Minangkabau, tetapi juga menjadi energi positif bagi masyarakat luas.
Falsafah besar Minangkabau, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” mengajarkan bahwa kehidupan harus dibangun di atas nilai agama, etika, dan penghormatan terhadap sesama. Nilai inilah yang selama ini membuat masyarakat Minangkabau mampu diterima dan hidup berdampingan secara harmonis di berbagai daerah, termasuk di Pulau Buru.
Pada akhirnya, amanah yang kini berada di pundak Sunardi Idris adalah amanah untuk menjaga nyala api persaudaraan itu tetap menyala. Sebab organisasi boleh berganti pemimpin, generasi boleh berganti zaman, tetapi ikatan kekeluargaan harus tetap terpelihara.
Sebagaimana petuah Minangkabau yang selalu relevan bagi para perantau: “Nan jauh dicinto, nan dakek dipalalui.” Kampung halaman tetap dicintai, namun tempat berpijak hari ini harus dirawat dan dimuliakan.
Di antara ranah Minang dan tanah Buru, ada jembatan yang tak terlihat namun kokoh berdiri: jembatan persaudaraan. Dan kini, jembatan itu kembali dipercayakan untuk dijaga, dirawat, dan diperkuat demi generasi yang akan datang.
(Mus Latuconsina)