Media Istana
Tanjung Redeb, 7 Juli 2026
Suasana malam yang dulunya penuh tawa dan irama gitar di sepanjang trotoar tepian Sungai Segah kini mulai diliputi kecemasan. Kawasan yang selama bertahun-tahun menjadi ruang berkumpul sekaligus sumber penghidupan puluhan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) itu kini menjadi sasaran operasi penertiban gabungan yang memicu perdebatan hangat di tengah masyarakat.
Di lokasi ini, warga dari berbagai lapisan menghabiskan waktu malam menikmati hidangan ringan, ditemani alunan musik akustik yang dibawakan pemuda setempat, dengan pemandangan gemerlap lampu seberang sungai sebagai latar. Lapak-lapak sederhana ini bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang sosial yang menyatukan warga, sekaligus tumpuan harapan bagi mereka yang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga lewat usaha mandiri.
Namun, kehadiran petugas penertiban belakangan ini mengubah suasana itu. Puluhan pelaku usaha dikabarkan diminta menyingkir atau membongkar lapak mereka dengan alasan pelanggaran tata ruang dan fungsi kawasan bantaran sungai. Keresahan pun meluas: banyak dari mereka mengaku sudah berusaha di lokasi ini selama belasan tahun, menjaga kebersihan dan ketertiban, namun tidak pernah mendapatkan sosialisasi jelas mengenai aturan yang berlaku hingga operasi digelar secara tiba-tiba.
“Kami tidak meminta kemewahan, hanya diberi ruang yang layak untuk mencari nafkah. Kalau kawasan ini harus ditata, setidaknya ada solusi pengganti, bukan sekadar menyuruh pergi tanpa arah,” ujar salah satu pengelola tempat makan yang enggan disebutkan namanya, sambil menunjuk kerumunan pengunjung yang masih setia hadir.
Pihak berwenang menyatakan penertiban dilakukan untuk menjaga kelestarian sungai dan mencegah bahaya yang mungkin timbul akibat pemanfaatan lahan yang tidak sesuai aturan. Namun, langkah ini dinilai belum menyentuh akar masalah: kurangnya ruang usaha yang disiapkan pemerintah bagi pelaku ekonomi akar rumput, serta minimnya komunikasi dua arah sebelum kebijakan ditegakkan.
Masyarakat berharap penataan kawasan Sungai Segah tidak melumpuhkan denyut ekonomi rakyat yang sudah terjalin lama. Diperlukan pendekatan yang tidak hanya menegakkan aturan, tetapi juga memanusiakan mereka yang menggantungkan hidup di sana agar keindahan sungai dan kesejahteraan warga bisa berjalan beriringan, bukan saling menyingkirkan.
Aroel Mandang