33.2 C
Jakarta
BerandaInfoMENERTIBKAN GUNUNG BOTAK ATAU MENERTIBKAN MANUSIA?

MENERTIBKAN GUNUNG BOTAK ATAU MENERTIBKAN MANUSIA?

 

Oleh: Muhamad Daniel Rigan

Ada yang terasa janggal setiap kali kita membaca berita tentang upaya “menertibkan Gunung Botak.” Kata-katanya terdengar tegas, bahkan heroik—seolah yang hendak didisiplinkan adalah sebongkah alam yang sejak awal justru dikenal paling patuh pada hukum semesta. Gunung, yang diam, sabar, dan tunduk pada ketetapan Sang Pencipta, kini tiba-tiba menjadi objek yang perlu “ditertibkan.” Ironi macam apa ini?

Barangkali persoalannya bukan pada gunungnya. Gunung tidak pernah melanggar aturan. Ia tidak menambang dirinya sendiri, tidak pula mengatur izin atau mempermainkan hukum. Gunung hanya ada—diam, setia, dan apa adanya. Yang bergerak, yang gaduh, yang sering kali tak tertib, adalah manusia di sekitarnya.

Namun entah mengapa, yang kerap disasar justru “Gunung Botak”-nya, bukan manusianya. Seolah dengan mengirim pasukan, memasang larangan, dan menggencarkan operasi, persoalan selesai begitu saja. Padahal, yang luput disentuh adalah akar masalah: legalitas yang kabur, kepentingan yang bertabrakan, serta kehadiran negara yang terasa setengah hati.

Jika benar ingin menertibkan, maka yang perlu ditertibkan adalah manusia—bukan gunungnya. Tertibkan aturan hukumnya, pastikan jelas, jujur, dan adil. Pisahkan mana yang memiliki hak sah dan mana yang sekadar memanfaatkan celah. Negara seharusnya hadir lebih dulu, bukan sekadar membuka jalan bagi investor tanpa fondasi yang rapi.

Langkahnya pun sebenarnya sederhana, meski sering dibuat seolah rumit. Turunkan tim yang berwenang, evaluasi langsung di lapangan, percepat penyelesaian perizinan, dan libatkan pemerintah daerah secara serius. Kekosongan hukum yang dibiarkan berlarut-larut hanya akan melahirkan masalah baru—dari kerugian ekonomi hingga potensi konflik dan kejahatan.

Sebaliknya, jika yang ingin “ditertibkan” tetap gunungnya, maka silakan kirim sebanyak mungkin aparat untuk menjaganya. Gunung itu akan tetap diam seperti sediakala. Hanya saja, kita mungkin akan kembali membaca berita yang sama di jilid berikutnya—tentang kegagalan yang diulang dengan cara yang persis sama.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang seberapa keras kita menjaga gunung, melainkan seberapa serius kita membenahi manusia. Karena selama yang ditertibkan bukan pelakunya, maka ketertiban akan selalu menjadi wacana—indah dalam kata, tetapi rapuh dalam kenyataan.

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!