Beranda blog Halaman 36

Memburu Pemangsa: Empat Jurnalis Terjun ke Labirin Kejahatan Anak, Teror Iblis Mengintai

0

JAKARTA, Media Istana.com — Bukan sekadar film horor, Memburu Pemangsa mencoba membawa penonton masuk ke wilayah kelam kejahatan terhadap anak melalui perpaduan investigasi jurnalistik, aksi, kriminalitas, dan teror supranatural.

Film produksi Sinemaku Pictures garapan Umay Shahab tersebut kembali memperlihatkan atmosfer mencekam melalui official teaser poster dan teaser trailer terbaru yang dirilis pada 18 Agustus 2026. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026.

Cerita berpusat pada empat jurnalis perempuan yang diperankan Laura Basuki, Prilly Latuconsina, Taskya Namya, dan Yasamin Jasem,Mereka menyelidiki rangkaian kasus hilangnya anak-anak yang membawa mereka semakin dekat dengan sosok yang diduga menjadi predator di balik kejahatan tersebut.

Alih-alih menghadirkan investigasi yang berjalan mulus, pencarian kebenaran justru berubah menjadi pertaruhan nyawa. Keempat jurnalis tersebut bukan hanya berhadapan dengan manusia, tetapi juga ancaman iblis dan praktik demonologi yang membuat kasus semakin sulit ditebak.

Sosok Teuku Rifnu Wikana menjadi salah satu titik penting dalam penyelidikan, Karakternya diduga mempunyai keterkaitan dengan hilangnya sejumlah anak serta kejahatan yang berhubungan dengan ritual demonologi.

Yang menarik, film ini tidak menempatkan keempat pemeran utama hanya sebagai karakter yang mengejar informasi, Laura, Prilly, Taskya, dan Yasamin juga dituntut menghadapi sejumlah adegan laga, memperlihatkan sisi berbeda dari kemampuan mereka di luar drama akting.

Teaser poster turut menyimpan simbol yang mengundang tanda tanya, Sejumlah anak terlihat memandangi akuarium raksasa, sementara sosok misterius tampak berada di balik kaca seperti mengawasi mereka,Adegan tersebut menjadi salah satu gambaran ancaman yang menjadi pemicu investigasi empat jurnalis tersebut.

Di balik cerita fiksi tersebut, Memburu Pemangsa juga membawa keresahan terhadap persoalan eksploitasi dan kekerasan terhadap anak,Tim produksi mengaku melakukan riset serta berdiskusi dengan sejumlah pihak untuk memahami persoalan tersebut sebelum mengembangkan cerita film.

Sutradara Umay Shahab menegaskan bahwa isu kekerasan terhadap anak menjadi bagian penting dari kegelisahan yang ingin dibawa melalui film tersebut, Karena itu, proses pengembangan cerita tidak hanya bertumpu pada imajinasi, tetapi juga melalui riset terhadap persoalan dan modus kejahatan yang terjadi.

Sementara itu, Laura Basuki melihat kekuatan empat karakter utama terletak pada perbedaan cara mereka menghadapi kasus. Meski memiliki pendekatan masing-masing, keempatnya mempunyai tujuan yang sama, yakni terus mencari kebenaran demi menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban.

Dengan kombinasi horror-crime-action, investigasi jurnalistik, aksi laga, hingga unsur demonologi, Memburu Pemangsa menjadi salah satu proyek terbaru Sinemaku Pictures yang menawarkan pendekatan berbeda terhadap tema kejahatan terhadap anak.

Film yang diproduksi oleh rumah produksi yang didirikan Umay Shahab dan Prilly Latuconsina pada 2019 ini dijadwalkan hadir di bioskop Indonesia pada 24 September 2026.

Jangan hanya mencari siapa pemangsanya—film ini mengajak penonton melihat seberapa jauh seseorang berani memburu kebenaran ketika keselamatan nyawa menjadi taruhannya.

Kemerdekaan Harus Diisi Dengan Pemerintahan yang Bersih Dan BerKeadilan

0

Anggota DPR RI Fraksi PKS, Ateng Sutisna, mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan kedekatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 dan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah pada 25 Agustus 2026 sebagai momentum refleksi nasional. Menurutnya, kemerdekaan tidak boleh berhenti pada seremoni, sementara Maulid Nabi tidak cukup dimaknai sebagai ritual, tetapi harus menjadi energi moral untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan dan menghadirkan keadilan yang dirasakan langsung oleh rakyat.

 

Ateng menilai kemerdekaan merupakan awal dari proses panjang membangun bangsa melalui pemerintahan yang adil, makmur, berintegritas, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat. Di sisi lain, keteladanan Nabi Muhammad SAW memberikan nilai kepemimpinan yang relevan untuk menjawab persoalan tata kelola negara modern, seperti amanah, kejujuran, kecerdasan, keterbukaan, musyawarah, kesetaraan di hadapan hukum, serta keberpihakan kepada kelompok lemah.

 

“Kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan bangsa lain. Kemerdekaan juga berarti membebaskan rakyat dari korupsi, ketidakadilan hukum, kemiskinan struktural, pelayanan publik yang buruk, serta birokrasi yang lebih sibuk melayani kekuasaan daripada melayani masyarakat,” tegas Ateng.

 

Menurut legislator dari Dapil Jawa Barat IX yang meliputi Sumedang, Majalengka, dan Subang tersebut, semangat kemerdekaan dan keteladanan Rasulullah SAW memiliki titik temu dalam upaya membangun negara yang berkeadilan. Keduanya menuntut kekuasaan digunakan sebagai amanah untuk melindungi dan melayani masyarakat, bukan sebagai instrumen dominasi.

 

Ateng juga menilai keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam membangun masyarakat yang majemuk relevan dengan kehidupan kebangsaan Indonesia. Piagam Madinah, menurutnya, menunjukkan pentingnya kesepakatan bersama, jaminan hak, tanggung jawab kolektif, dan penyelesaian konflik berdasarkan keadilan.

 

“Indonesia dibangun di atas kemajemukan. Karena itu, kekuatan kita bukan terletak pada penyeragaman, melainkan pada kemampuan merawat perbedaan dalam satu komitmen kebangsaan. Kepemimpinan profetik mengajarkan bahwa kekuasaan bukan alat dominasi, tetapi amanah untuk melindungi seluruh warga tanpa diskriminasi,” ujarnya.

 

Baca Juga Pengetatan BBM Subsidi Dimulai, Ateng Sutisna Dorong Distribusi Tepat Sasaran

Dalam konteks pemerintahan, Ateng menyoroti pemberantasan korupsi yang masih menjadi pekerjaan rumah besar. Berdasarkan Corruption Perceptions Index (CPI) 2025 yang dirilis Transparency International, Indonesia memperoleh skor 34 dari 100 dan berada di peringkat 109 dari 182 negara.

 

Menurut Ateng, kondisi tersebut menjadi alarm bahwa reformasi birokrasi tidak cukup hanya mengandalkan digitalisasi layanan dan penyederhanaan prosedur. Reformasi harus disertai keteladanan pemimpin, penguatan pengawasan, transparansi anggaran, pencegahan konflik kepentingan, serta penegakan hukum yang konsisten.

 

“Hukum tidak boleh tajam kepada rakyat kecil, tetapi tumpul ketika berhadapan dengan elite. Keteladanan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa kedudukan, kekayaan, hubungan keluarga, dan kedekatan politik tidak boleh menjadi perisai dari pertanggungjawaban hukum. Negara akan kehilangan wibawa apabila keadilan dapat dinegosiasikan,” kata Ateng.

 

Selain supremasi hukum, Ateng mendorong penerapan sistem merit secara nyata dalam birokrasi dan lembaga negara. Menurutnya, kompetensi, integritas, dan kapasitas harus menjadi dasar dalam rekrutmen serta promosi jabatan, bukan senioritas, patronase, atau kedekatan politik.

 

Ia menilai pemerintah perlu memberikan ruang lebih besar kepada generasi muda, termasuk ASN milenial dan Gen Z yang memiliki kompetensi serta rekam jejak baik. Penguatan Human Capital Management harus diarahkan untuk membangun birokrasi yang adaptif, profesional, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

 

“Jangan sampai usia menjadi satu-satunya ukuran kelayakan seseorang memimpin. Yang harus menjadi ukuran adalah kompetensi, integritas, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kemampuan memberikan hasil bagi masyarakat,” ujarnya.

 

Ateng juga menekankan pentingnya pengelolaan keuangan negara yang berorientasi pada pemerataan kesejahteraan. Setiap rupiah anggaran publik harus dikelola secara transparan, tepat sasaran, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, terutama kelompok miskin, rentan, serta wilayah yang masih tertinggal.

 

Baca Juga Ateng Sutisna Kritik Klaim Investasi Pemerintah: Jangan Hanya Komitmen, Rakyat Butuh Realisasi

Menurutnya, program seperti Dana Desa, subsidi, dan perlindungan sosial harus dijaga dari praktik rent-seeking dan kebocoran anggaran. Desentralisasi fiskal harus menjadi instrumen pemerataan dan pengentasan kemiskinan, bukan ruang bagi kepentingan segelintir elite.

 

Di sisi lain, Ateng menilai nilai dasar ASN BerAKHLAK memiliki keselarasan dengan prinsip kepemimpinan profetik. Berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif tidak boleh berhenti sebagai slogan administratif, tetapi harus terlihat dalam perilaku aparatur sehari-hari.

 

“Pemimpin harus memiliki kepekaan terhadap penderitaan rakyat, visi untuk membawa masyarakat maju, serta kasih sayang yang diwujudkan dalam kebijakan. Itulah makna kepemimpinan yang melayani. Rakyat tidak membutuhkan lebih banyak slogan; rakyat membutuhkan negara yang hadir, mendengar, dan menyelesaikan masalah,” jelasnya.

 

Karena itu, Ateng menyerukan lima agenda pembenahan sebagai refleksi HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H. Pertama, memperkuat supremasi hukum tanpa pandang bulu. Kedua, menegakkan sistem merit dalam jabatan publik. Ketiga, memastikan anggaran berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Keempat, mengubah budaya birokrasi menjadi pelayanan yang empatik dan akuntabel. Kelima, menjaga Pancasila dan persatuan nasional di tengah kemajemukan.

 

Ateng berharap momentum kemerdekaan dan Maulid Nabi menjadi kesempatan untuk mengevaluasi sejauh mana negara telah menjalankan amanah konstitusi dan menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat.

 

“Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka harus menjadi titik penguatan, bukan sekadar pengulangan seremoni. Mari kita isi kemerdekaan dengan pemerintahan yang bersih, hukum yang adil, birokrasi yang kompeten, anggaran yang menyejahterakan, dan persatuan yang kokoh. Dengan meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW, Indonesia dapat tumbuh menjadi negara yang tidak hanya berdaulat secara politik, tetapi juga bermartabat secara moral dan berkeadilan secara sosial,” pungkas Ateng.

Mendagri Salurkan Tali Asih untuk Ahli Waris Korban Meninggal Akibat Gempa NTT

0

 

MEDIAISTANA.COM

Senin, 17 Agustus 2026

Manggarai Timur – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyalurkan tali asih kepada ahli waris korban meninggal akibat gempa di Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (17/8/2026). Santunan diserahkan langsung oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian bersama Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii serta Bupati Manggarai Timur Agas Andreas di wilayah terdampak paling parah.

“Kemendagri memberikan tali asih sebanyak Rp15 juta per jiwa, per jiwa yang wafat pada keluarganya,” kata Mendagri.

Selain santunan tersebut, Mendagri memastikan pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial (Kemensos) juga memberikan santunan sebesar Rp15 juta untuk korban meninggal dunia. Dalam kesempatan ini, ia juga mengapresiasi inisiatif warga yang mendirikan posko sesaat usai gempa bermagnitudo 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pagi.

Ia pun memberikan dua unit genset, 10 unit velbed atau tempat tidur lapangan untuk memperkuat posko tersebut, serta Rp200 juta untuk dua desa di Kecamatan Lamba Leda Utara. “Kita juga mengapresiasi ada posko yang dibangun warga. Tapi kita tambahi sekalian aja, namanya genset 2, sekaligus velbed ada 10 untuk operasionalnya,” ujarnya.

Mendagri memastikan pemerintah terus bergerak pada masa tanggap darurat. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya posko Basarnas yang berdampingan dengan tenda warga serta pendataan kebutuhan guna mempercepat penyaluran bantuan.

Karena itu, ia mengajak masyarakat terdampak untuk bekerja sama guna memulihkan dampak bencana. “Ini harus kerja sama kita, pemerintah sama masyarakat,” tutupnya.

Sebelumnya, Mendagri Muhammad Tito Karnavian memimpin Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Lapangan Natas Lehong, Kabupaten Manggarai Timur.

Kehadiran Mendagri merupakan tindak lanjut arahan Presiden RI Prabowo Subianto untuk meninjau lokasi bencana gempa sekaligus mempercepat penanganan bencana di NTT. Hal tersebut merupakan wujud kehadiran negara di tengah masyarakat terdampak bencana.

Puspen Kemendagri

Aristono

Mendagri Siapkan Rencana Prioritas Penanganan Korban Gempa di NTT

0

 

Media istana.Com

Senin, 7 Agustus  2026

Manggarai Timur – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menegaskan telah mengantongi rencana prioritas dalam rangka penanganan korban bencana gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini ia sampaikan kepada wartawan usai melakukan peninjauan dan berdialog dengan warga di Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara.

Langkah ini dimulai dengan mempercepat pemulihan jaringan listrik dan penyaluran logistik, khususnya sembako untuk memenuhi kebutuhan warga. “Jadi prioritas listrik, kemudian makanan. Makanan logistik mereka sangat minta sekali,” ujar Mendagri, Senin (17/8/2026).

Mendagri menambahkan, ia akan berkomunikasi dengan Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Listrik Negara (PLN) agar pemulihan jaringan listrik di Manggarai Timur menjadi prioritas. Pasalnya, pembangkit dan gardu induk tidak mengalami kerusakan. Gangguan listrik lebih disebabkan oleh tiang-tiang yang roboh akibat guncangan gempa.

“Pembangkit listrik enggak ada yang rusak. Persoalannya adalah tiang-tiangnya ada yang roboh, jaringan yang dari gardu ke rumah. Itu problemnya,” urainya.

Ia berharap listrik yang kembali menyala dapat mendukung pemulihan jaringan telekomunikasi agar warga bisa kembali berhubungan dengan keluarganya di luar wilayah. “Kalau listriknya sudah mati, mau enggak mau sinyal handphone juga off juga. Nah, itu mungkin hal-hal yang prioritas yang kita kerjakan,” katanya.

Selain listrik dan logistik, Mendagri memastikan akan berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin guna memberikan dukungan tenaga medis di lokasi terdampak bencana. Hal ini untuk memperkuat posko warga dan Basarnas di Kecamatan Lamba Leda Utara yang menjadi salah satu wilayah terparah akibat gempa.

“Segera akan saya telepon Pak Menkes untuk mengirim pasukan beliau, termasuk obat-obatan, relawan medis beliau,” tuturnya.

Dalam kesempatan ini, Mendagri juga mengapresiasi TNI Angkatan Laut yang akan menerjunkan Rumah Sakit Terapung KRI dr. Soeharso ke perairan Manggarai Timur.

“Kalau bisa kita dorong juga Rumah Sakit Angkatan Laut yang kapal yang besar itu, (KRI) Soeharso untuk di (wilayah) Reo. Itu akan sangat banyak membantu sekali,” tutupnya.

Sebagai informasi, Mendagri meninjau Desa Satar Kampas usai memimpin upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Natas Lehong, Kabupaten Manggarai Timur. Mendagri tiba di lokasi bersama Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii serta Bupati Manggarai Timur Agas Andreas.

Puspen Kemendagri

Aristono

Mendagri Siapkan Rencana Prioritas Penanganan Korban Gempa di NTT

0

 

INVESTIGASI.IN

Senin, 17 Agustus 2026

Manggarai Timur – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menegaskan telah mengantongi rencana prioritas dalam rangka penanganan korban bencana gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini ia sampaikan kepada wartawan usai melakukan peninjauan dan berdialog dengan warga di Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara.

Langkah ini dimulai dengan mempercepat pemulihan jaringan listrik dan penyaluran logistik, khususnya sembako untuk memenuhi kebutuhan warga. “Jadi prioritas listrik, kemudian makanan. Makanan logistik mereka sangat minta sekali,” ujar Mendagri, Senin (17/8/2026).

Mendagri menambahkan, ia akan berkomunikasi dengan Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Listrik Negara (PLN) agar pemulihan jaringan listrik di Manggarai Timur menjadi prioritas. Pasalnya, pembangkit dan gardu induk tidak mengalami kerusakan. Gangguan listrik lebih disebabkan oleh tiang-tiang yang roboh akibat guncangan gempa.

“Pembangkit listrik enggak ada yang rusak. Persoalannya adalah tiang-tiangnya ada yang roboh, jaringan yang dari gardu ke rumah. Itu problemnya,” urainya.

Ia berharap listrik yang kembali menyala dapat mendukung pemulihan jaringan telekomunikasi agar warga bisa kembali berhubungan dengan keluarganya di luar wilayah. “Kalau listriknya sudah mati, mau enggak mau sinyal handphone juga off juga. Nah, itu mungkin hal-hal yang prioritas yang kita kerjakan,” katanya.

Selain listrik dan logistik, Mendagri memastikan akan berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin guna memberikan dukungan tenaga medis di lokasi terdampak bencana. Hal ini untuk memperkuat posko warga dan Basarnas di Kecamatan Lamba Leda Utara yang menjadi salah satu wilayah terparah akibat gempa.

“Segera akan saya telepon Pak Menkes untuk mengirim pasukan beliau, termasuk obat-obatan, relawan medis beliau,” tuturnya.

Dalam kesempatan ini, Mendagri juga mengapresiasi TNI Angkatan Laut yang akan menerjunkan Rumah Sakit Terapung KRI dr. Soeharso ke perairan Manggarai Timur.

“Kalau bisa kita dorong juga Rumah Sakit Angkatan Laut yang kapal yang besar itu, (KRI) Soeharso untuk di (wilayah) Reo. Itu akan sangat banyak membantu sekali,” tutupnya.

Sebagai informasi, Mendagri meninjau Desa Satar Kampas usai memimpin upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Natas Lehong, Kabupaten Manggarai Timur. Mendagri tiba di lokasi bersama Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii serta Bupati Manggarai Timur Agas Andreas.

Puspen Kemendagri

Aristono

Kami Berteriak’Merdeka’Hari Kemerdekaan ke-81, Kembali Menghirup Debu,Terjebak Macet, dan di Jalanan

0

Mediaistana.com – TANGERANG, 19 AGUSTUS 2026
Kami, warga Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, yang setiap pagi harus berdesakan di jalanan yang sempit, setiap siang menghirup debu yang beterbangan, setiap sore terjebak macet berkilo-kilometer, dan setiap malam tidak bisa tidur nyenyak karena bau sampah serta kebisingan—kami menulis ini dengan suara yang gemetar karena marah, sekaligus lelah karena sudah terlalu lama diabaikan. Pernyataan ini bukanlah untaian kata-kata manis untuk mencari perhatian. Bukan juga keluhan yang memohon belas kasihan. Ini adalah teriakan dari bawah, dari jalanan yang panas dan berdebu, dari warga yang setiap hari diperlakukan seolah bukan bagian dari negara ini.

Baru kemarin, tepat satu hari yang lalu, kami berdiri berjejer di bawah terik matahari untuk merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 tahun. Kami mengheningkan cipta mengenang jasa para pahlawan. Kami meneriakkan kata “Merdeka!” sekuat tenaga. Kami menyanyikan lagu kebangsaan dengan dada yang membuncah bangga. Kami melihat para pejabat naik ke panggung, mengenakan pakaian rapi, berpidato dengan lantang tentang persatuan, tentang keadilan, tentang melayani rakyat, dan tentang menjaga amanah kemerdekaan.

Namun kenyataannya, baru sehari setelah bendera merah putih dikibarkan dengan gagah, baru beberapa jam setelah pidato-pidato megah itu terdengar, kami kembali dihadapkan pada kebenaran yang pahit: di jalanan tempat kami hidup, tempat kami mencari nafkah, tempat anak-anak kami berjalan ke sekolah, negara yang kami banggakan itu nyaris tidak ada wujudnya. Seragam-seragam gagah yang kami lihat di upacara, hilang saat benar-benar dibutuhkan. Wewenang yang kami bayar dari uang pajak kami sendiri, tiba-tiba menjadi tidak berfungsi ketika hak kami dirampas.

KEPADA PEMERINTAH KOTA TANGERANG: KAPAN KALIAN AKAN BERHENTI BERPIKIR BAHWA KAMI HANYA BUTUH PIDATO DAN PENCITRAAN?

Kepada Bapak Walikota Tangerang, kepada jajaran Dinas Perdagangan, kepada seluruh pejabat yang duduk dengan nyaman di ruangan ber-AC di gedung pemerintahan, dengarkanlah baik-baik suara kami dari jalanan yang berdebu ini.

Kami tidak meminta kemewahan. Kami tidak menuntut jalanan mulus sepanjang mata memandang. Kami hanya meminta satu hal yang sangat mendasar: lakukanlah tugas kalian sesuai dengan jabatan dan gaji yang kalian terima dari uang pajak rakyat.

Setiap hari kami melihat bagaimana ruang publik milik bersama dirampas sedikit demi sedikit, tanpa ada yang berani menghentikannya. Contoh paling nyata ada di GOR Gondrong. Tempat yang seharusnya menjadi arena olahraga warga, tempat anak-anak bermain dengan aman, tempat lansia bisa berjalan santai, kini berubah menjadi pasar liar yang tidak tertib. Lapak-lapak Pedagang Kaki Lima (PKL) menempati separuh badan jalan. Mereka memblokir saluran air yang seharusnya mengalir lancar, sehingga saat hujan turun genangan banjir dengan cepat terbentuk. Sampah-sampah menumpuk dan membusuk di pinggir jalan, mengundang lalat, tikus, dan bau menyengat yang masuk sampai ke kamar tidur warga. Pengunjung GOR yang ingin berolahraga kesulitan melintas. Warga sekitar tidak bisa beristirahat karena kebisingan dan bau yang tak tertahankan.

Sudah berapa kali kami melapor? Sudah berapa kali kami mengisi formulir pengaduan dengan harapan kecil? Sudah berapa kali kami datang ke kantor dinas, menunggu berjam-jam, hanya untuk mendengar jawaban klise yang selalu sama:
“Akan ditinjau.”
“Akan diproses.”
“Nanti setelah waktunya.”

Hari sudah berganti minggu, minggu berganti bulan, bahkan tahun sudah berganti. Kemerdekaan ke-81 pun sudah kami rayakan. Namun janji-janji kalian? Masih mengambang di udara, sama tidak berartinya dengan debu yang beterbangan di jalanan kami.

Kondisi yang jauh lebih memalukan terjadi di Jalan Sipon dan Poris Plawad Utara. Dua jalur jalan yang seharusnya melancarkan pergerakan warga, kini menyempit menjadi satu lajur sempit karena lapak PKL menguasai bahu jalan, lalu merambah masuk ke badan jalan. Akibatnya, kemacetan memanjang berkilo-kilometer menjadi pemandangan wajib setiap pagi saat orang berangkat kerja dan setiap sore saat mereka pulang. Pengendara sepeda motor terpaksa berbelok ke tengah, berhadapan langsung dengan mobil yang melaju kencang. Satu kesalahan kecil, satu rem yang terlambat menekan, dan nyawa kami bisa melayang di tempat.

Lalu bagaimana dengan hak pejalan kaki? Lupakan saja tentang trotoar. Trotoar di wilayah kami sudah lama mati. Ia tidak lagi berfungsi sebagai jalur aman bagi warga yang berjalan kaki, melainkan sudah diubah menjadi lapak sewa oleh oknum koordinator pedagang kaki lima yang tidak bertanggung jawab. Kami, warga yang seharusnya dilayani, justru terpaksa berjalan di atas aspal, di antara deru kendaraan yang melaju kencang, mempertaruhkan nyawa setiap kali melintas.

Kami bertanya dengan lantang: Apakah nyawa warga tidak ada harganya di mata kalian? Apakah kalian baru akan turun tangan setelah ada korban jiwa yang tertabrak di sini? Apakah darah kami harus tertumpah terlebih dahulu agar kalian sadar bahwa ini bukan masalah sepele?

Dan yang paling memalukan dari semuanya, bahkan Lurah Poris Plawad Utara sendiri sudah berani mengakui secara terbuka bahwa PKL menjamur di trotoar sepanjang jalan, sampai ke arah masuk menuju kediaman Bapak Walikota sendiri. Coba renungkan baik-baik hal ini. Jalan menuju rumah pemimpin kota saja sudah dirampas, sudah dikuasai, sudah tidak tertib. Lalu apa lagi yang tersisa dari kewibawaan pemerintahan kalian? Apa lagi yang tersisa dari janji “melayani masyarakat” yang selalu kalian ucapkan di setiap kesempatan? Kalian bahkan tidak mampu menjaga ketertiban di depan pintu rumah kalian sendiri. Lalu bagaimana mungkin kami percaya kalian mampu menjaga kota ini?

Jangan pernah coba menjawab kami dengan alasan klasik yang sudah basi:
“Kami sedang menyusun penataan.”
“Kami mencari solusi yang humanis.”

Kami tidak bodoh. Kami tahu apa arti humanis. Humanis bukan berarti membiarkan sekelompok orang merampas hak orang banyak. Humanis bukan berarti membiarkan pedagang kecil diperas oleh oknum koordinator licik sementara kalian diam melihatnya. Humanis bukan berarti mengorbankan keselamatan ribuan warga hanya karena kalian tidak berani mengambil tindakan tegas.

Jika kalian membiarkan kekacauan ini terus berlanjut dengan alasan kemanusiaan, maka kalian bukan sedang bersikap humanis. Kalian sedang bersikap pengecut. Kalian sedang menunda masalah, melempar tanggung jawab, dan berharap masalah ini hilang dengan sendirinya. Padahal kami semua tahu, masalah ini tidak akan pernah hilang kecuali ada tangan tegas yang membereskan akar permasalahannya sampai tuntas.

KEPADA SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KOTA TANGERANG, CAMAT CIPONDOH, DAN SAT POL-PP CIPONDOH: APAKAH SERAGAM YANG KALIAN PAKAI HANYALAH KOSTUM BELAKA?

Dan kepada kalian, jajaran Satuan Polisi Pamong Praja, yang setiap hari mengenakan seragam rapi, bersepatu mengkilap, dan berbaris gagah saat upacara bendera, kami punya pertanyaan sederhana yang menuntut jawaban jujur: Untuk apa sebenarnya kalian ada? Apa tugas utama kalian?

Apakah tugas kalian hanya mengatur parkir saat ada acara pejabat? Apakah hanya berdiri kaku di pinggir jalan saat ada kunjungan tamu penting? Apakah hanya bersiul dan mengatur kerumunan saat ada pesta rakyat? Lalu saat ruang publik dirampas, saat aturan dilanggar terang-terangan di depan mata kalian, saat warga menderita setiap hari—di mana kalian?

Kami sudah terlalu sering melihat pemandangan yang memalukan. Mobil dinas Satpol PP lewat di jalanan yang penuh lapak liar. Petugas di dalamnya melihat, tahu, paham bahwa itu semua melanggar aturan. Tapi apa yang mereka lakukan? Hanya melengos, melaju terus, seolah tidak melihat apa-apa. Seolah jalanan yang rusak dan kacau itu bukan tanggung jawab mereka. Seolah aturan yang ada hanya berlaku di buku peraturan saja, tidak berlaku di kenyataan.

Saat kami memberanikan diri bertanya, jawaban yang kami dapat selalu membuat dada kami sesak karena marah:
“Belum ada perintah dari atas.”
“Menunggu arahan pimpinan.”
“Bukan bagian tugas saya.”

Kami bertanya dalam hati, lalu perintah seperti apa yang sebenarnya kalian tunggu? Apakah perintah harus turun sampai ada orang mati tertabrak di jalanan ini? Apakah pimpinan kalian tidak melihat apa yang kami lihat setiap hari? Atau mereka memang melihat, tapi sengaja membiarkan karena ada alasan tertentu yang tidak boleh kami ketahui?

Dan yang paling menyakitkan baru saja terjadi kemarin. Ketika awak media datang menanyakan kondisi ini kepada kalian, apa yang kalian lakukan? Kalian bungkam. Pejabat yang bertugas menerima pertanyaan, membaca daftar pertanyaan, lalu menunduk diam dan berkata: “Kami tidak berwenang menjawab. Belum ada perintah pimpinan.” Lalu pintu ditutup. Percakapan berakhir.

Kalian tahu betapa hinanya perbuatan itu? Kalian adalah aparat penegak peraturan daerah. Kalian digaji, diberi seragam, diberi wewenang, diberi kekuasaan untuk menertibkan. Tapi saat rakyat dan media meminta pertanggungjawaban, kalian memilih bungkam. Kalian memilih bersembunyi di balik atasan. Kalian memilih lari dari tanggung jawab. Seragam yang kalian pakai dengan bangga setiap hari, saat ini terasa hanyalah kostum. Kostum untuk pamer kekuasaan di depan orang lemah, rakyat miskin yang tidak tahu apa-apa, tapi berubah jadi kain penutup malu saat harus menjawab kebenaran.

Kami juga mendengar cerita bisikan dari saudara-saudara kami yang menjadi pedagang kecil di lapangan. Mereka berbisik karena takut. Mereka bercerita bahwa ada oknum koordinator yang setiap hari memungut uang dari mereka. Siapa yang tidak bayar, diusir dengan kasar. Siapa yang membayar, boleh berjualan seenaknya di mana saja, bahkan sampai ke pinggir trotoar jalan yang seharusnya milik warga. Uang pungutan itu tidak ada kuitansinya, tidak ada laporannya, tidak jelas ke mana perginya. Tapi semua orang di lapangan tahu siapa orangnya. Semua orang tahu berapa tarifnya. Semua orang tahu praktik busuk ini sudah berjalan bertahun-tahun lamanya.

Dan kami bertanya kepada kalian, wahai Bapak-Bapak Satpol PP, apakah kalian benar-benar tidak tahu tentang jaringan pungli ini? Apakah kalian benar-benar buta dan tuli selama ini? Atau kalian tahu, tapi memilih diam karena ada bagian yang mengalir ke pihak tertentu? Atau kalian takut bertindak karena oknum-oknum itu punya pelindung di tempat yang lebih tinggi?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak akan pernah hilang dari kepala kami selama kalian tetap bungkam. Semakin lama kalian diam, semakin kuat dugaan kami bahwa ada sesuatu yang busuk di balik kebisuan kalian. Sesuatu yang melibatkan jabatan, uang, dan pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat.

Camat Cipondoh pun tidak kalah memalukan. Saat diminta keterangan tentang kondisi wilayah yang beliau pimpin, beliau tidak ada di tempat—padahal mobil dinasnya terparkir rapi di halaman kantor. Stafnya hanya berkata datar, “Beliau tidak bisa memberikan keterangan saat ini. Tunggu arahan dari atas.” Begitu saja. Tidak ada rasa tanggung jawab. Tidak ada rasa malu karena wilayah yang beliau amanahi berubah menjadi medan kekacauan. Seolah jabatan Camat hanyalah gelar untuk menikmati fasilitas negara, bukan amanah untuk melayani rakyat.

KAMI TIDAK MEMINTA BANYAK. TUNTUTAN KAMI SEDERHANA: BEKERJALAH SESUAI TUGAS DAN GAJI YANG KALIAN TERIMA

Kami warga Cipondoh adalah rakyat biasa. Kami bangun pagi untuk bekerja, pulang sore untuk beristirahat. Kami tidak menuntut fasilitas mewah. Kami tidak menuntut pelayanan sempurna layaknya di negara maju. Kami hanya menuntut satu hal yang sangat sederhana namun mendasar: bekerjalah sesuai dengan tugas, jabatan, dan gaji yang kalian terima dari uang pajak kami, dari rakyat Indonesia.

Tugas pemerintah adalah mengatur. Tugas Satpol PP adalah menertibkan. Tugas Camat adalah menjaga wilayahnya. Jika kalian tidak mampu melakukan hal-hal dasar itu, maka untuk apa kami memilih kalian? Untuk apa kami membayar pajak setiap bulan? Untuk apa kami harus menghormati seragam dan jabatan kalian, jika pada kenyataannya kalian tidak mampu memberikan perlindungan sedikit pun kepada kami?

Perlu kami tegaskan dengan jelas: kami juga tidak membenci saudara-saudara kami yang menjadi pedagang kaki lima. Kami tahu mereka juga rakyat kecil yang sedang berjuang mencari nafkah demi menghidupi istri dan anak. Kami tidak ingin mereka diusir secara kasar, dihina, atau diperlakukan tidak manusiawi. Kami mengerti perjuangan mereka.

Tapi kami juga tidak mau hak kami dirampas. Kami tidak mau keselamatan kami dipertaruhkan setiap hari. Kami tidak mau aturan di kota ini hanya berlaku bagi mereka yang tidak punya kuasa, sementara mereka yang berani melanggar dan punya pelindung dibiarkan bebas berbuat sewenang-wenang.

Solusinya jelas, dan ini bukan hal baru. Ini adalah solusi yang sudah berkali-kali disuarakan warga, namun selalu diabaikan:

1. Bubarkan dan tertibkan PKL yang menempati ruang publik secara ilegal, memblokir jalan, dan membahayakan keselamatan warga.
2. Berikan tempat yang layak dan tertib bagi saudara-saudara kami para pedagang agar mereka bisa berjualan dengan tenang tanpa merugikan hak orang banyak.
3. Tangkap dan proses secara hukum semua oknum koordinator ilegal pedagang yang selama ini memeras saudara-saudara kami dan merusak ketertiban umum.
4. Tindaklanjuti laporan pungli dari para pedagang korban pemerasan secara transparan dan tegas.
5. Panggil untuk bertanggung jawab pejabat dan aparat yang selama ini bungkam, lalai, dan membiarkan semua ini terjadi. Jangan biarkan mereka terus bersembunyi di balik kebisuan dan alasan klise “menunggu perintah dari atas”.

KEPERCAYAAN KAMI SEDANG HABIS. JANGAN SAMPAI KALIAN KEHILANGAN KAMI SELAMANYA.

Kemerdekaan ke-81 tahun yang baru saja kami rayakan seharusnya menjadi momen pengingat yang keras bagi kalian semua yang memegang tampuk kekuasaan. Kemerdekaan ini bukanlah hadiah gratis. Ia direbut dengan darah dan air mata para pendahulu kami, dengan harapan bahwa suatu hari nanti negeri ini akan dipimpin oleh orang-orang yang jujur, berani, dan bertanggung jawab.

Bukan oleh orang-orang yang hanya pandai berpidato di atas panggung, tapi pengecut saat harus bertindak di lapangan.
Bukan oleh orang-orang yang pandai berseragam rapi, tapi bungkam saat rakyat meminta pertanggungjawaban.
Bukan oleh orang-orang yang pandai membuat janji, tapi selalu lupa saat harus menepatinya.

Kami mengingatkan dengan keras: kepercayaan rakyat bukanlah barang yang bisa kalian ambil seenaknya dan buang sesuka hati. Saat ini, kepercayaan kami terhadap pemerintah kota, terhadap Camat, terhadap Satpol PP, sudah hampir habis. Setiap hari kami melihat pedagang kaki lima menguasai jalanan, setiap hari kami mendengar cerita pungli yang meresahkan, setiap hari kami melihat kalian memilih diam—dan setiap hari itu juga, rasa hormat kami kepada jabatan dan seragam kalian semakin luntur.

Jangan biarkan kami sampai pada titik di mana kami harus mengatakan dengan lantang: kami tidak lagi membutuhkan kalian. Karena jika jabatan dan wewenang tidak lagi berguna untuk melindungi dan melayani rakyat, maka ia tidak lebih dari sekadar hiasan kosong yang memalukan.

Bertindaklah sekarang. Jangan tunggu sampai ada darah yang tertumpah di jalanan ini. Jangan tunggu sampai ada korban jiwa baru kalian sadar.

Kami menunggu tindakan nyata.
Bukan lagi janji.
Bukan lagi kebisuan.
Bukan lagi alasan.

Kami warga Cipondoh, tidak butuh foto dokumentasi pamer aksi saat ada penertiban. Kami butuh penertiban itu sendiri, dan ketertiban yang nyata setiap hari.

REDAKSI: DAVID E SE

Bukan Sekadar Copet! “Operasi Pesta Copet” Bongkar Sisi Gelap di Balik Gemerlap Festival Musik

0
oppo_0

JAKARTA, Mediaistana.com — Gemerlap festival musik ternyata menyimpan cerita lain di balik hiruk-pikuk ribuan penonton,Film “Operasi Pesta Copet” mengangkat sisi tersebut ke layar lebar dengan memadukan kriminalitas, komedi, persahabatan, musik, dan realitas sosial.

Hal itu mengemuka dalam press conference film “Operasi Pesta Copet” yang digelar di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Selasa (18/8/2026), Konferensi pers tersebut turut menghadirkan jajaran pemain dan kreator yang membedah proses kreatif hingga pengalaman mereka terlibat dalam film tersebut.

Film produksi Imajinari yang berkolaborasi dengan Boss Creator dan Angin Segar ini menjadi debut penyutradaraan layar lebar Edy Khemod, drummer grup musik Seringai,Film tersebut dijadwalkan menyapa penonton bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026.

Ketika Tekanan Ekonomi Mengubah Arah Hidup

“Operasi Pesta Copet” mengikuti kisah Ijal (Iqbaal Ramadhan) yang berada dalam tekanan ekonomi setelah kehilangan pekerjaan dan menghadapi persoalan finansial, Bersama Adut (Kristo Immanuel), Tia (Zulfa Maharani), dan Melodi (Kawai Labiba), Ijal merancang aksi pencopetan di tengah festival musik besar.

Namun film ini tidak berhenti pada aksi kriminal,Cerita justru berusaha melihat alasan dan tekanan sosial yang berada di balik keputusan para tokohnya,Riset film bahkan mencakup kriminalitas, kriminologi, hingga observasi kehidupan masyarakat di kawasan pinggir rel, Pendekatan tersebut digunakan untuk membangun karakter dan memperlihatkan bahwa fenomena pencopetan tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan persoalan sosial yang lebih luas.

Pemain Dituntut Belajar Teknik Copet
Salah satu hal menarik dalam produksi film ini adalah keputusan kreator untuk membuat para pemain mempelajari teknik pencopetan secara langsung.

Iqbaal Ramadhan sebelumnya mengungkap bahwa para pemain mendapat pelatihan dari seorang “Coach Copet”, termasuk mempelajari gerakan tangan, pengalihan perhatian, distraksi, hingga aspek psikologis dalam melakukan aksi pencopetan.

Pendekatan tersebut membuat adegan pencopetan tidak sekadar mengandalkan trik kamera atau proses penyuntingan, tetapi dibangun melalui gerakan yang dipelajari para pemerannya.

Deretan Pemain dan Kreator
“Operasi Pesta Copet” dibintangi Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal, Kristo Immanuel sebagai Adut, Zulfa Maharani sebagai Tia, Kawai Labiba sebagai Melodi, serta Fauzan Lubis alias Ojan Sisitipsi sebagai Silet, Film ini juga menghadirkan Dewa Dayana dan penampilan spesial Vincent Rompies.

Dari jajaran produksi, film ini disutradarai Edy Khemod, dengan produser Ernest Prakasa, Dipa Andika, James Erlangga, dan Iqbaal Ramadhan, Sementara produser eksekutifnya adalah Ernest Prakasa, Dipa Andika, dan Rizki Aulia alias Kiki Ucup.

Kehadiran Fauzan Lubis juga menjadi sorotan,Vokalis Sisitipsi tersebut menjalani debut layar lebarnya sebagai Silet setelah melalui proses casting yang dilakukan secara daring melalui Zoom.

Festival Musik Jadi Panggung Cerita
Salah satu kekuatan “Operasi Pesta Copet” berada pada latar festival musik yang dibuat sedekat mungkin dengan realitas, Proses produksi bahkan dilakukan di tengah kerumunan festival musik dengan jumlah penonton sekitar 30 ribu orang, selain melibatkan ratusan figuran untuk membangun suasana festival.

Film ini sekaligus membawa warna skena musik Indonesia ke dalam cerita, Detail merchandise sejumlah band independen turut dimanfaatkan sebagai bagian dari dunia visual film, sehingga atmosfer festival tidak sekadar menjadi latar, tetapi ikut membentuk identitas cerita.

Dengan menggabungkan komedi kriminal dan drama sosial, “Operasi Pesta Copet” menawarkan sudut pandang berbeda: bukan untuk membenarkan pencopetan, melainkan mengajak penonton melihat manusia dan persoalan yang berada di balik tindakan tersebut.

Mulai 27 Agustus 2026, bioskop Indonesia akan menjadi tempat penonton menyaksikan bagaimana sebuah festival musik yang seharusnya menjadi ruang hiburan justru berubah menjadi medan operasi bagi empat anak muda yang sedang berusaha bertahan hidup.

“PAKET SANTET” Siap Meneror Bioskop, Teror dari Paket Misterius Dibongkar di Jakarta

0

JAKARTA, Mediaistana.com — Dunia perfilman horor Indonesia kembali diguncang oleh kehadiran film “Paket Santet”, yang resmi diperkenalkan melalui press conference peluncuran poster dan trailer di , Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Film horor-thriller terbaru ini merupakan produksi BASE Entertainment, dengan Dinna Jasanti sebagai sutradara sekaligus penulis cerita,Film tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026.

“Paket Santet” menawarkan konsep horor yang dekat dengan kehidupan masyarakat modern: sebuah paket misterius yang datang tanpa identitas pengirim justru menjadi pintu masuk teror mematikan, Kisahnya mengikuti sekelompok mahasiswa—Deva, Bela, Ale, Celia, Firza, Kiki dan Glen—yang harus menghadapi kutukan setelah menerima paket tersebut.

Yang membuat film ini berbeda, teror santet tidak hanya dibangun melalui ritual mistis, tetapi dipadukan dengan kebiasaan masyarakat masa kini yang akrab dengan belanja dan menerima paket secara daring.

Dinna Jasanti mengangkat unsur lebah sebagai salah satu medium teror dalam film, Menurut penjelasan yang telah disampaikan dalam publikasi sebelumnya, pemilihan unsur tersebut dilakukan setelah riset mengenai berbagai medium dalam kisah santet.

Deretan Kreator dan Pemain
Film “Paket Santet” diproduksi oleh BASE Entertainment, dengan jajaran produser Shanty Harmayn, Tanya Yuson, dan Aoura Lovenson, Sementara jajaran Executive Producer yang tercantum dalam materi promosi film adalah Winston Utomo, William Putra Utomo, dan Fajar Nugros.

Dari sisi pemain, film ini menghadirkan Fadly Faisal, Yasamin Jasem, Fatih Unru, Azela Putri, Gabriella Ekaputri, Farandika, Fiki Naki, Adam Farrel, dan Vonny Anggraini, Fiki Naki juga menjadi perhatian karena menandai debutnya di layar lebar melalui film ini.

Fadly Faisal dipercaya memerankan Ale, Yasamin Jasem sebagai Bela, Fatih Unru sebagai Deva, Azela Putri sebagai Kiki, Gabriella Ekaputri sebagai Celia, Farandika sebagai Glen, sedangkan Fiki Naki memerankan Firza.

Kehadiran para pemain muda tersebut memperkuat karakter film yang menggabungkan horor supranatural, misteri, persahabatan, dan ketegangan kehidupan anak muda.

Dengan premis yang sederhana tetapi dekat dengan keseharian—menerima sebuah paket—“Paket Santet” mencoba menghadirkan pertanyaan yang mengusik: bagaimana jika paket yang kita tunggu-tunggu justru membawa kutukan?
Film produksi BASE Entertainment ini menjadi salah satu tontonan horor Indonesia yang patut diperhitungkan menjelang penayangan nasionalnya pada 27 Agustus 2026.

Camat Nurussalam Resmi Lepas Karnaval HUT RI ke-81 Tingkat Kecamatan

0

Camat Nurussalam Resmi Lepas Karnaval HUT RI ke-81 Tingkat Kecamatan

 

Aceh Timur —Mediaistana.com

Camat Nurussalam, Muzakkir, S.H.I., M.M., resmi melepas kegiatan Karnaval HUT RI ke-81 tingkat Kecamatan Nurussalam, Selasa (18/8/2026).

 

Kegiatan yang berlangsung meriah dan penuh semangat tersebut dipusatkan di lokasi start. Dalam kesempatan itu, Muzakkir didampingi Kapolsek Nurussalam, AKP Deshery, saat melepas para peserta karnaval.

 

Karnaval diikuti puluhan peserta dari berbagai jenjang pendidikan se-Kecamatan Nurussalam. Para peserta tampil dengan beragam kreasi dan atraksi yang turut menambah semarak peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

 

Antusiasme peserta dan masyarakat tampak sejak kegiatan dimulai. Selain menjadi ajang hiburan bagi masyarakat, karnaval tersebut juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan, meningkatkan kreativitas, serta menumbuhkan semangat nasionalisme di tengah masyarakat Kecamatan Nurussalam.

Ribuan Pelajar Meriahkan Karnaval HUT ke-81 RI di kecamatan Julok

0
filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; sv:16.2.12.1.W20; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 2;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 0;weatherinfo: null;temperature: 41;

 

Aceh Timur-Mediaistana.com 

Jalanan Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur, mendadak penuh warna dan riuh oleh gelak tawa warga, Selasa (18/8/2026) siang. Ribuan pelajar dari berbagai pelosok kecamatan julok turun ke jalan untuk memeriahkan karnaval Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

 

Ratusan hingga ribuan warga berbondong-bondong keluar dari rumah dan memadati setiap sudut rute yang dilalui para peserta. Senyum sumringah terpancar dari wajah warga saat menyaksikan deretan anak-anak hingga remaja tampil percaya diri mengenakan aneka busana adat Nusantara, seragam profesi, hingga kostum kreasi unik.

 

Pawai dimulai dari Stadion TM Jafar. Dari sana, arak-arakan bergerak menuju Masjid Attaqarrub di Gampong Julok Tunong, melintasi kawasan Simpang Empat Kuta Binjei yang dipadati warga, hingga akhirnya kembali ke Stadion TM Jafar sebagai titik akhir.

 

Karnaval tersebut diikuti secara serentak oleh generasi muda dari berbagai tingkatan sekolah dan madrasah se-Kecamatan Julok, mulai dari murid SD/MI, siswa SMP/MTs, hingga pelajar SMA/SMK/MA.

 

Antusiasme peserta dan penonton berpadu menjadi satu, menjadikan momen tahunan ini sebagai panggung kebersamaan yang hangat sekaligus menghibur.

 

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Camat Julok, H. Muhammad, S.Pd.I., MA. Ia hadir bersama Danramil 07/Julok Kapten Syahrial, Kapolsek Julok Iptu Kamal, serta jajaran panitia pelaksana yang turut menyapa warga di sepanjang jalur karnaval.

 

Lebih dari sekadar tontonan, parade ini menjadi wadah edukasi budaya sekaligus penanaman jiwa nasionalisme sejak dini. Melalui busana adat yang dikenakan dan langkah para pelajar yang menyusuri jalanan Julok, tersirat pesan tentang indahnya keberagaman, kokohnya rasa cinta Tanah Air, serta eratnya persaudaraan masyarakat dalam merayakan kemerdekaan.(MN)