Beranda blog Halaman 78

“Warga Bekasi Bisa Tenang, Samsat Tegaskan Pelayanan Terbuka dan Akuntabel.”

0

*Samsat Bekasi Perbarui Janji Pelayanan: Transparan dan Bebas Pungli*

*KABUPATEN BEKASI* – Untuk memberi kepastian kepada wajib pajak, Samsat Kabupaten Bekasi kembali memperbarui komitmen pelayanannya. Penegasan maklumat pelayanan dilakukan pada Selasa, 10 Agustus 2026 di kantor Samsat Jalan Industri, Kampung Sempu.

Dalam maklumat tersebut, Samsat secara terbuka menjabarkan standar pelayanan kepada masyarakat. Mulai dari syarat dokumen, alur pengurusan, lama waktu proses, hingga besaran biaya resmi, semua dijamin sesuai aturan yang berlaku.

“Kami ingin masyarakat tahu persis apa haknya saat datang ke Samsat. Tidak ada lagi kebingungan soal prosedur maupun biaya,” ujar petugas Samsat dalam kegiatan tersebut.

Langkah ini merupakan implementasi dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Aturan itu mewajibkan instansi pemerintah memberikan layanan yang mudah, cepat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bagi internal Samsat, maklumat bukan hanya kertas pajangan. Dokumen ini dijadikan acuan kerja dan pakta integritas bagi seluruh personel. Setiap petugas diwajibkan melayani secara profesional, disiplin, serta menjauhi praktik pungutan liar.

Pihak Samsat berharap pembaruan komitmen ini dapat meningkatkan kepercayaan publik. Targetnya, tercipta birokrasi pelayanan yang bersih, efektif, dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat Kabupaten Bekasi.

Dengan begitu, peningkatan mutu layanan bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan bagian dari upaya membangun tata kelola pemerintahan yang baik dan berpihak pada warga.

_(Penulis: Tri S)_

 

Senyum Anak-Anak di Tengah Air Bersih, Bukti Nyata TMMD Hadir untuk Warga

0

Senyum Anak-Anak di Tengah Air Bersih, Bukti Nyata TMMD Hadir untuk Warga

Jakarta -MEDIA ISTANA,Halmahera Timur – Senyum bahagia terpancar dari wajah anak-anak saat menikmati air bersih hasil pembangunan sumur bor yang dikerjakan oleh Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 1505/Tidore, Selasa (11/8/2026).

Keceriaan tampak ketika anak-anak mulai mandi dan bermain air, sementara warga lainnya memanfaatkan air tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi mereka, hadirnya sumber air bersih bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi menjadi jawaban atas kebutuhan yang selama ini dirasakan.

Sumur bor yang dibangun Satgas TMMD di wilayah Kecamatan Wasile Tengah, Kabupaten Halmahera Timur, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi warga dalam jangka panjang, khususnya untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Kehadiran Satgas TMMD pun menjadi bukti nyata bahwa TNI hadir di tengah masyarakat, tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan solusi bagi kebutuhan dasar warga.

Bagi Satgas TMMD, melihat senyum dan keceriaan anak-anak menikmati air bersih menjadi kebahagiaan tersendiri. Karena di balik setiap pembangunan, ada harapan agar kehidupan warga menjadi lebih mudah, sehat, dan sejahtera. (Pen Kodim 1505)

Hamdan ❤️

Ribuan Personel dan Alutsista Paspampres Siap Amankan Rangkaian HUT Ke-81 RI

0

Ribuan Personel dan Alutsista Paspampres Siap Amankan Rangkaian HUT Ke-81 RI

Jakarta -MEDIA ISTANA– Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) Mayjen TNI Dr. Edwin Adrian Sumantha memimpin Apel Gelar Kesiapan Pasukan Satuan Tugas Pengamanan (Satgaspam) VVIP untuk memastikan kesiapan sejumlah 1.147 personel berikut alat utama sistem persenjataan Paspampres yang bertugas mengamankan rangkaian kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2026 di Lapangan Hitam Mako Paspampres, Senin (10/8/2026)

Apel tersebut menjadi tahapan penting untuk menjamin kesiapan seluruh personel, materiil, serta sistem dan perangkat operasional pengamanan VVIP secara optimal dalam rangkaian agenda kenegaraan peringatan HUT RI.

Ribuan personel Paspampres yang diterjunkan ke dalam beberapa Satgaspam yang terdiri dari: Apel Kehormatan dan Renungan Suci (AKRS) sebanyak 151 personel yang bertugas pada 14 Agustus, Sidang DPR/MPR pada 15 Agustus sebanyak 277 personel, dan pada 17 Agustus dalam Upacara Penaikan dan Penurunan Sang Merah Putih sebanyak 294 personel, Acara Pesta Rakyat 205 personel, Tim Paskibraka 70 personel, serta Tim Pasukan Upacara 150 personel.

Kesiapan Satgaspam VVIP tersebut juga didukung oleh berbagai Alutsista termutakhir, materiil dan kendaraan operasional modern yang dimiliki oleh Paspampers, diantaranya meliputi: senapan Caracal dan senapan Dasan, ⁠SS1 V3 Croom, MP 7, berbagai macam pistol (G2 Combat, HK, Glock 17, Glock 19, Glock 43X, dan Sig Sauer), dan senjata Sniper SPR 3 Pindad serta Sniper AW. Selain itu, turut disiapkan satu kendaraan anti-drone Koopsudnas dan satu kendaraan Maung Arteleri Pertahanan Udara.

Kendaraan taktis yang turut disiagakan diantaranya yaitu: kendaraan CBRNE _(Chemical, Biological, Radiological, Nuclear, and Explosive)_, kendaraan jammer, kendaraan kawal G500, kendaraan security G500, kendaraan P2 Komando, kendaraan Maung, serta motor kawal Goldwing.

Gelar Alutsista canggih tersebut sejalan dengan perkembangan karakteristik ancaman terkini yang tidak lagi hanya berupa tindakan fisik secara langsung, tetapi juga telah menggunakan teknologi drone, serangan siber, dan penyebaran informasi yang dapat memicu gangguan keamanan, hingga aksi individu maupun kelompok yang bergerak cepat dan sulit diprediksi. Menurut Mayjen Edwin, pengamanan VVIP harus dilakukan secara preventif dan proaktif dengan mengantisipasi setiap potensi ancaman sejak dini.

“Bagi Paspampres, keberhasilan bukan hanya ketika kita berhasil melumpuhkan ancaman, tetapi ketika ancaman itu sama sekali tidak pernah memiliki kesempatan untuk muncul. Itulah hakikat tugas pengamanan VVIP yang sesungguhnya,” tegasnya.

“Keberhasilan kita sering kali tidak terlihat oleh masyarakat, namun justru di situlah profesionalisme Paspampres diuji. Kita bekerja dalam senyap, penuh kewaspadaan, dengan ketelitian, kecepatan, disiplin, dan koordinasi yang solid,” sambungnya.

Mayjen Edwin juga menekankan bahwa seluruh personel harus memahami bahwa pengamanan rangkaian HUT ke-81 RI merupakan tugas sekaligus amanah mulia untuk menjaga martabat institusi, menjamin keselamatan VVIP sekaligus mengawal kehormatan bangsa dan negara.

“Jadikan setiap langkah pengabdian sebagai kehormatan kita untuk menjaga keselamatan VVIP, menjaga, dan mengawal kehormatan dan martabat Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.

Di akhir amanatnya, Mayjen Edwin meminta seluruh personel menjaga keimanan dan ketakwaan, mempersiapkan kemampuan fisik, mental, serta teknis, meningkatkan kewaspadaan, dan melaksanakan tugas secara profesional, disiplin, tegas, santun, serta humanis.

HAMDAN ❤️

DKUPP Probolinggo Genjot UMKM Naik Kelas Lewat Frozen Food

0

Probolinggo, Mediaistana.com
Bisnis makanan beku atau FROZEN FOOD kini jadi salah satu peluang emas bagi pelaku usaha mikro. Melihat tren itu, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo menggelar pelatihan pengolahan olahan daging unggas menjadi produk beku.

Kegiatan berlangsung di Aula Pantai Bohay, Desa Binor, Kecamatan Paiton. Sebanyak 50 pelaku UMKM dari Kecamatan Paiton, Kraksaan, dan Besuk ikut ambil bagian dalam pelatihan yang fokus pada peningkatan keterampilan dan pengembangan bisnis makanan olahan, Senin (10/8/2026).

Pelatihan ini merupakan bagian dari strategi Pemkab Probolinggo mendorong UMKM tidak hanya jago produksi, tapi juga mampu mengelola usaha secara profesional dan berorientasi pasar.

Acara dibuka Wakil Ketua I Dekranasda Kabupaten Probolinggo Ning Umi Haniah Fahmi AHZ. Hadir mendampingi Sekretaris Dekranasda Galuh Hudan Syarifuddin, Kepala DKUPP Sugeng Wiyanto, dan Camat Paiton Abdul Bari.

Ning Umi Haniah menegaskan, mengolah daging menjadi _frozen food_ punya nilai tambah jauh lebih besar dibanding menjual bahan mentah atau produk yang cepat basi.
Daging ayam, sapi, maupun ikan punya potensi besar jadi produk siap masak. Dengan teknik dan kemasan yang tepat, masa simpannya panjang sehingga jangkauan pasarnya bisa lebih luas, ujarnya.

Ia mendorong pelaku usaha memandang FROZEN FOOD bukan sekadar makanan, tapi sebagai bisnis yang bisa menembus pasar luar daerah. Kunci utamanya ada di sistem pengemasan dan distribusi.

Penggunaan ICE GEL bisa jadi solusi menjaga kualitas produk saat dikirim ke konsumen jauh. Dengan begitu, UMKM Probolinggo tidak hanya bergantung pada pasar lokal, jelasnya.

Menurutnya, usaha makanan beku sangat cocok dikembangkan perempuan dan ibu rumah tangga sebagai sumber pendapatan tambahan keluarga.

Ning Hani juga mengajak peserta berinovasi menciptakan produk praktis sesuai kebutuhan konsumen modern. Contohnya paket makanan siap saji berisi karbohidrat, protein, dan sayur yang tinggal dipanaskan.

Manfaatkan semua dukungan pemerintah, mulai pelatihan, pendampingan, sampai akses pemasaran. Keberhasilan bukan diukur dari pelatihannya, tapi dari berapa produk baru yang benar-benar diproduksi dan dijual berkelanjutan, tegasnya.

Senada, Kepala DKUPP Sugeng Wiyanto menyebut pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas SDM pelaku usaha mikro.
Harapannya peserta bisa langsung menerapkan ilmu ini menjadi usaha yang menambah pendapatan keluarga, katanya.

DKUPP juga menyiapkan pendampingan lanjutan, termasuk fasilitasi pengurusan legalitas usaha tanpa biaya. NIB dan sertifikat halal disebutnya sebagai modal utama masuk ke pasar yang lebih besar.

Selain itu, DKUPP sudah menjalin komunikasi dengan perbankan untuk akses permodalan. Pelaku usaha bisa berkonsultasi untuk mendapat pendampingan pembiayaan.

Camat Paiton Abdul Bari menambahkan, Paiton punya potensi UMKM besar. Ia menekankan UMKM naik kelas tidak hanya soal omzet, tapi juga legalitas, kualitas, inovasi, dan digital marketing.

Produk bagus harus didukung produksi higienis dan informasi jelas. Kolaborasi dengan Universitas Nurul Jadid dan program CSR perusahaan juga penting untuk bantu kendala legalitas dan pengembangan produk, pungkasnya.

Pemkab Probolinggo berharap pelatihan ini jadi awal lahirnya produk-produk baru yang mampu membawa UMKM lokal naik kelas dan go nasional.

Bank Jatim Cabang Kraksaan Salurkan Bantuan Kacamata Gratis untuk 13 Anak Sekolah

0

Probolinggo, Mediaistana.com
Kepedulian terhadap dunia pendidikan kembali ditunjukkan Bank Jatim Cabang Kraksaan dengan menyerahkan bantuan kacamata gratis bagi 13 anak sekolah jenjang SD dan SMP di Kabupaten Probolinggo, Senin (10/8/2026).

Bantuan tersebut diberikan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 Bank Jatim sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Penyerahan bantuan dilakukan oleh Pemimpin Bank Jatim Cabang Kraksaan Siska Dian Permatasari bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono.

Pemimpin Bank Jatim Cabang Kraksaan Siska Dian Permatasari mengatakan pemberian kacamata gratis tersebut merupakan bagian dari program kepedulian Bank Jatim terhadap pelajar sekaligus dukungan terhadap peningkatan kualitas pendidikan.

Hari ini kita menyerahkan bantuan kacamata gratis untuk anak sekolah dalam rangka HUT ke-65 Bank Jatim dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Secara keseluruhan, Bank Jatim membagikan 576 kacamata untuk seluruh kota dan kabupaten di Jawa Timur. Untuk Cabang Kraksaan mendapatkan kuota sebanyak 13 kacamata, ujarnya.

Selain mendapatkan kacamata jelas Siska, para siswa penerima bantuan juga memperoleh alat tulis sekolah. Bantuan ini diharapkan dapat membantu siswa yang mengalami kendala penglihatan sehingga lebih nyaman mengikuti kegiatan pembelajaran, jelasnya.

Menurut Siska, kemampuan melihat dengan baik menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang proses belajar. Karena itu, bantuan kacamata ini diharapkan tidak hanya membantu siswa dalam melihat tulisan di kelas, tetapi juga meningkatkan semangat mereka dalam menuntut ilmu.

Harapannya, dengan diberikannya kacamata ini dapat menambah semangat anak-anak untuk belajar, mencapai cita-citanya dan menjadi anak-anak yang berguna bagi bangsa dan negaranya, terangnya.

Ia menambahkan, program tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi sosial Bank Jatim kepada masyarakat, khususnya di bidang pendidikan. Harapannya kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan jumlah penerima manfaat bisa ditambah pada tahun mendatang.

Mudah-mudahan tahun depan kacamata yang akan kita bagikan lebih banyak lagi, sehingga pembelajaran menjadi lebih lancar bagi anak-anak karena mereka bisa melihat tulisan dengan lebih terang, tuturnya.

Siska menjelaskan, program pemberian kacamata gratis tersebut juga merupakan bagian dari kerja sama Bank Jatim dengan Kelompok Usaha Bank (KUB), termasuk Bank NTT. Sementara proses pendataan dan penentuan penerima bantuan dilakukan melalui pihak terkait untuk memastikan bantuan diberikan kepada siswa yang membutuhkan.

Kami menghimbau anak-anak yang mengalami gangguan penglihatan agar tidak ragu melakukan pemeriksaan dan menggunakan alat bantu yang sesuai. Untuk anak-anak, tetap semangat belajar dan gunakan bantuan ini sebaik-baiknya agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih lancar, pesannya.

Sementara Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono menyampaikan apresiasi kepada Bank Jatim atas kepedulian dan dukungan yang diberikan kepada para pelajar di Kabupaten Probolinggo. Bantuan kacamata ini sebagai bagian dari program yang dilaksanakan secara serentak di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Alhamdulillah, hari ini Bank Jatim memberikan kacamata gratis kepada 13 siswa di Kabupaten Probolinggo. Memang seluruhnya dilaksanakan serentak di Jawa Timur dan Kabupaten Probolinggo mendapatkan 13 kacamata, ujarnya.

Menurutnya, bantuan tersebut memiliki manfaat penting bagi siswa karena dapat menunjang aktivitas mereka selama mengikuti pembelajaran di sekolah. Harapannya para penerima bantuan dapat memanfaatkan kacamata tersebut dengan baik sehingga proses belajar menjadi lebih nyaman dan mereka semakin termotivasi untuk meraih prestasi. Mudah-mudahan bantuan kacamata ini bermanfaat dan anak-anak didik kita bisa sukses selalu, tegasnya.

Hary juga mengapresiasi konsistensi Bank Jatim yang dinilai terus memberikan dukungan terhadap berbagai program Pemerintah Kabupaten Probolinggo, termasuk program yang berkaitan dengan pendidikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Saya ucapkan terima kasih kepada Bank Jatim yang selalu support untuk Pemerintah Kabupaten Probolinggo. Mudah-mudahan ke depan Bank Jatim semakin eksis, sehat selalu dan semakin memberikan keberkahan untuk kita semua, harapnya.

Melalui bantuan tersebut, Bank Jatim Cabang Kraksaan berharap semakin banyak pelajar yang memperoleh dukungan untuk meningkatkan kualitas belajarnya. Program sosial seperti pemberian kacamata juga menjadi bagian dari upaya bersama untuk memastikan keterbatasan penglihatan tidak menjadi hambatan bagi anak-anak dalam mengejar pendidikan dan meraih cita-cita.

Sekda Ugas Apresiasi Pembinaan Warga Binaan Rutan Kraksaan

0

Probolinggo, Mediaistana.com
Pembinaan warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kraksaan terus dikembangkan melalui berbagai kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan. Kegiatan membatik dan pelayanan kesehatan menjadi bagian dari upaya Rutan Kraksaan memberikan pembinaan yang produktif dan humanis bagi warga binaan.

Hal tersebut mendapat apresiasi dari Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto saat melakukan kunjungan ke Rutan Kelas IIB Kraksaan. Dalam kunjungan tersebut, Sekda Ugas melihat berbagai bentuk pelayanan dan pembinaan yang diberikan kepada warga binaan, Senin (10/8/2026).

Turut mendampingi Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo dr. Hariawan Dwi Tamtomo dan Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Probolinggo Saniwar.

Kepala Rutan Kraksaan Galih Setiyo Nugroho mengatakan, kegiatan membatik menjadi salah satu program pembinaan kemandirian yang terus dikembangkan. Melalui kegiatan tersebut, warga binaan diberikan kesempatan untuk mempelajari keterampilan produktif yang diharapkan dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.

Kami terus mendorong kegiatan pembinaan yang dapat memberikan keterampilan dan pengalaman positif bagi warga binaan, sekaligus menjadi bekal ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat, ujarnya.

Menurutnya, pembinaan keterampilan tidak hanya bertujuan memberikan aktivitas positif selama warga binaan berada di rutan. Keterampilan membatik juga diharapkan dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif setelah mereka menyelesaikan masa pembinaan dan kembali ke lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Selain pembinaan kemandirian, Rutan Kraksaan juga memberikan perhatian terhadap pelayanan kesehatan warga binaan. Pemenuhan kebutuhan kesehatan dinilai penting untuk memastikan warga binaan tetap mendapatkan pelayanan yang layak selama menjalani masa pembinaan.

Di sisi lain, pelayanan kesehatan juga menjadi perhatian kami untuk memastikan kebutuhan kesehatan warga binaan terpenuhi dengan baik, jelasnya.

Pelayanan tersebut menjadi bagian dari upaya Rutan Kraksaan dalam memberikan pembinaan secara menyeluruh. Tidak hanya membekali warga binaan dengan keterampilan, tetapi juga memastikan kondisi kesehatan dan kesejahteraan mereka tetap menjadi perhatian.

Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto mengapresiasi pelaksanaan kegiatan membatik dan pelayanan kesehatan tersebut. Menurutnya, program tersebut menunjukkan bahwa pembinaan di Rutan Kraksaan dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek kebutuhan warga binaan.

Kami mengapresiasi kegiatan pembinaan membatik yang memberikan keterampilan bagi warga binaan, serta pelayanan kesehatan yang terus diberikan. Ini menunjukkan bahwa pembinaan di Rutan tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan warga binaan, tuturnya.

Sekda Ugas menilai pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan memiliki peran penting dalam mempersiapkan warga binaan sebelum kembali ke tengah masyarakat. Keterampilan yang diperoleh selama berada di rutan diharapkan dapat menjadi modal untuk menjalani kehidupan yang lebih produktif setelah menyelesaikan masa pembinaan.

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara Pemerintah Kabupaten Probolinggo dan Rutan Kraksaan dalam mendukung berbagai program pembinaan warga binaan. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan agar kebutuhan warga binaan, baik dari sisi keterampilan maupun kesehatan, dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Melalui pembinaan yang mengedepankan keterampilan, kesehatan dan pendekatan humanis, warga binaan diharapkan tidak hanya menjalani masa pembinaan, tetapi juga memperoleh bekal untuk kembali ke masyarakat dengan membawa keterampilan, pengalaman dan semangat menjalani kehidupan yang lebih baik.

USAI PENERTIBAN PKL GOR GONDRONG, DIDUGA ADA PEMBAHASAN TERSELUBUNG DENGAN ANGGOTA SATPOL PP

0

Mediaistana.com – TANGERANG —  Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan GOR Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Senin (10/8/2026), kembali menyisakan tanda tanya di tengah masyarakat. Kegiatan penertiban disebut berlangsung sekitar pukul 08.30 WIB hingga 10.00 WIB. Namun, setelah penertiban berakhir, muncul informasi mengenai dugaan pembahasan serius yang berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB, melibatkan seseorang yang disebut sebagai koordinator PKL dengan seseorang yang diduga merupakan anggota Satpol PP.

Informasi tersebut diperoleh dari seorang warga di pemukiman GOR yang meminta identitasnya dirahasiakan. Menurut sumber, komunikasi tersebut berlangsung cukup serius dan menjadi perhatian warga di sekitar lokasi.

DUA JAM YANG MENJADI PERTANYAAN BESAR

Apa yang sebenarnya dibicarakan selama kurang lebih dua jam?

Apakah menyangkut penataan PKL, pendataan pedagang, rencana penertiban berikutnya, lokasi berjualan, atau agenda kedinasan lainnya?

Hingga kini, materi pembahasan tersebut belum diketahui secara pasti. Media tidak menyimpulkan telah terjadi pelanggaran, kesepakatan tertentu, ataupun tindakan di luar kewenangan. Informasi tersebut masih berupa keterangan awal yang membutuhkan verifikasi dan konfirmasi dari pihak-pihak terkait.

Namun, ketika sebuah pembahasan disebut berlangsung cukup lama setelah kegiatan penertiban selesai, publik tentu memiliki alasan untuk bertanya.

PENERTIBAN SELESAI, PEMBAHASAN DIDUGA BERLANJUT

Persoalan utamanya bukan semata-mata adanya komunikasi antara aparat dan masyarakat. Dalam pelaksanaan tugas pemerintahan, komunikasi dengan warga tentu dapat terjadi.

Yang perlu dijelaskan adalah konteks, kapasitas, agenda, serta hasil pembicaraan tersebut.

Apakah pertemuan atau komunikasi itu merupakan bagian dari tugas resmi? Apakah tercatat dalam agenda kedinasan? Siapa saja yang terlibat? Apakah ada pejabat atau atasan yang mengetahui? Dan yang paling penting, apa hasil pembahasan tersebut?

Pertanyaan itu penting karena persoalan PKL di kawasan GOR Gondrong bukan perkara baru. Penertiban berkali-kali dilakukan, tetapi aktivitas PKL di sejumlah titik masih menjadi perhatian masyarakat.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana efektivitas penertiban yang dilakukan pemerintah?

PUBLIK MEMINTA KEJELASAN, BUKAN SPEKULASI

Masyarakat tidak membutuhkan kesimpulan berdasarkan rumor. Masyarakat membutuhkan fakta.

Jika pembahasan tersebut merupakan bagian dari tugas resmi, jelaskan secara terbuka. Jika berkaitan dengan pembinaan atau penataan PKL, sampaikan kepada publik. Jika informasi tersebut tidak benar, berikan klarifikasi.

Sebaliknya, apabila ditemukan dugaan pelanggaran disiplin atau prosedur, masyarakat tentu berharap persoalan tersebut ditangani melalui mekanisme yang berlaku.

Jangan sampai ruang kosong informasi justru melahirkan spekulasi di tengah masyarakat.

SUMBER WARGA MINTA IDENTITAS DIRAHASIAKAN

Sumber yang memberikan informasi kepada media meminta identitasnya tidak dipublikasikan dengan alasan keamanan dan kenyamanan. Keterangan tersebut diposisikan sebagai informasi awal dan tidak serta-merta dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya pelanggaran.

Media tetap memberikan ruang yang sama kepada pihak-pihak yang disebut untuk memberikan klarifikasi dan hak jawab.

Sebab prinsip jurnalistik harus tetap dijaga: dugaan adalah dugaan sampai terdapat bukti yang dapat diverifikasi.

Atas informasi tersebut, Satpol PP Kota Tangerang dan pihak terkait diharapkan memberikan penjelasan secara terbuka.

Publik berhak mengetahui apakah komunikasi yang disebut berlangsung sekitar pukul 10.00 hingga 12.00 WIB tersebut benar terjadi, siapa yang terlibat, dalam kapasitas apa, serta apakah pembahasan tersebut merupakan bagian dari agenda resmi kedinasan.

Klarifikasi bukan berarti tuduhan.

Sebaliknya, klarifikasi merupakan bentuk transparansi untuk memastikan informasi yang beredar tidak berkembang menjadi fitnah maupun spekulasi.

PERTANYAAN PUBLIK BELUM TERJAWAB

Kini pertanyaan masyarakat mengerucut pada satu hal:

Dari pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, apa sebenarnya yang dibicarakan antara pihak yang diduga sebagai koordinator PKL dan pihak yang diduga merupakan anggota Satpol PP di kawasan GOR Gondrong?

Jawaban atas pertanyaan tersebut penting untuk menguji informasi yang berkembang sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap proses penertiban.

Penertiban bukan sekadar aparat turun ke lapangan foto foto ,makan,minum kopi,merokok lalu pergi . Penertiban juga menyangkut integritas, transparansi, konsistensi, dan akuntabilitas dalam menjalankan aturan.

Media tidak sedang menjatuhkan vonis.

Media sedang menjalankan fungsi kontrol sosial dengan meminta informasi yang beredar diuji melalui konfirmasi dan fakta.

Fakta harus dibuka. Dugaan harus diverifikasi. Klarifikasi harus diberikan.

Satpol PP Kota Tangerang dan pihak-pihak terkait diberikan ruang seluas-luasnya untuk memberikan penjelasan serta hak jawab kepada publik.

GOR GONDRONG TIDAK MEMBUTUHKAN SPEKULASI. MASYARAKAT MEMBUTUHKAN KEPASTIAN.BUKAN JANJI – JANJI YANG TAK PASTI.

Red David E.S.E.

Ketok Mejik Bidik Pasar India, Rispo Keluar dari Zona Nyaman

0

JAKARTA, Mediaistana.Com – Film drama komedi Ketok Mejik mulai menunjukkan geliat positif menjelang penayangannya di bioskop Indonesia, Belum resmi tayang di Tanah Air, film yang mempertemukan Ananta Rispo, Tarra Budiman, dan Dodit Mulyanto tersebut justru sudah mendapat perhatian dari pelaku industri perfilman India.

Ketertarikan pasar internasional itu mencuat setelah Produser Eksekutif Ketok Mejik, Akshay Melwani, menghadiri BRICS Creative Economy Conference di India pada 6–7 Agustus 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Akshay memperkenalkan potensi industri kreatif Indonesia sekaligus membawa Ketok Mejik sebagai salah satu karya yang diperkenalkan kepada pelaku industri film setempat,”Di sana ada interest, saya baru dua hari di sana, jadi ada ketertarikan, which is a good sign, Khususnya untuk Ketok Mejik, initial interest-nya sangat bagus,” ujar Akshay Melwani saat ditemui di Jakarta.

Sinyal tersebut menjadi angin segar bagi film yang disutradarai Yogi S. Calam itu. Terlebih, Ketok Mejik tidak hanya mengandalkan komedi, tetapi juga menawarkan cerita tentang persahabatan, perjuangan mempertahankan usaha, serta persoalan utang yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Rispo Hadapi Tantangan Baru
Di balik unsur komedi yang menjadi kekuatan film, Ananta Rispo justru mendapat tantangan berbeda, Komika tersebut dipercaya memerankan Ben, tokoh utama yang harus menghadapi persoalan hidup setelah menerima warisan bengkel milik kakeknya.

Karakter Ben menuntut Rispo mengeksplorasi sisi emosional yang lebih dalam,Hal ini menjadi pengalaman berbeda bagi dirinya yang selama ini lebih dikenal melalui karakter dan aksi komedinya,”Ini film saya yang lumayan banyak dramanya karena saya harus ngejalanin cerita, harus ngejalanin dramanya,” kata Rispo saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026).

Menurut Rispo, tantangan terbesar justru muncul ketika dirinya harus mengurangi spontanitas sebagai komedian dan lebih fokus membangun karakter,”Jadi lumayan sulit di awal-awal, perlu banyak belajar dan karena saya komedian,” ujarnya.

Cerita Bengkel dan Palu Sakti

Ketok Mejik mengisahkan Ben, pemuda yang tiba-tiba harus meneruskan bengkel peninggalan sang kakek,Bukannya mendapatkan keuntungan, Ben justru mendapati usaha tersebut terlilit utang.

Persoalan semakin rumit ketika Ben berusaha mempertahankan bengkel tersebut dari ancaman seorang pengusaha yang ingin mengambil alih usaha itu.

Ben kemudian mendapat dukungan dari tiga pekerja bengkel dengan karakter yang bertolak belakang,Ada Made (Tarra Budiman) yang penuh ambisi, Saged (Dodit Mulyanto) dengan gaya bicara ceplas-ceplos, serta Unung (Arief Didu) yang polos.

Keempatnya kemudian mengandalkan sebuah palu yang dipercaya memiliki kekuatan istimewa,Dari sinilah berbagai kejadian kocak sekaligus penuh tantangan mulai terjadi.

Film ini menjadikan bengkel bukan sekadar latar cerita, melainkan ruang bagi para tokohnya untuk memperlihatkan arti persahabatan, loyalitas, dan perjuangan mempertahankan sesuatu yang dianggap berharga,Film tersebut dijadwalkan hadir serentak di bioskop Indonesia mulai 13 Agustus 2026.

Selain Ananta Rispo, Tarra Budiman, Dodit Mulyanto, dan Arief Didu, film ini turut menghadirkan Ersa Aurelia, Jarwo Kwat, Agus Kuncoro, Arafah Rianti, Sadana Agung, Erick Astrada, Lolox, Bihun Warwer, Furry Setya, Vidi Bulle, serta Chika Waode.

Dengan perpaduan komedi, drama, dan kisah perjuangan mempertahankan bengkel warisan, Ketok Mejik diharapkan tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menawarkan cerita tentang bagaimana orang-orang biasa berjuang menghadapi persoalan hidup dengan cara mereka sendiri.

BONGKAR HABIS PKL CIPONDOH: TROTOAR KEMBALI DIKUASAI, PENERTIBAN DIPERTANYAKAN,DI MANA SATPOL PP

0

Mediaistana.com – DARI SIPON,Dongkal, PORIS PLAWAD UTARA HINGGA GOR GONDRONG — PENERTIBAN BERULANG, PKL KEMBALI BERJUALAN

11 Agustus 2026 – TANGERANG — Persoalan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, tampaknya belum menemukan titik akhir.

Aktivitas perdagangan kembali terlihat di sejumlah ruang publik, termasuk kawasan Poris Plawad Utara, Sipon dan GOR Gondrong. Sejumlah trotoar dan ruang yang semestinya dapat digunakan masyarakat kembali menjadi lokasi aktivitas perdagangan.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar:

APAKAH PENERTIBAN SELAMA INI BENAR-BENAR MENYELESAIKAN MASALAH, ATAU HANYA MEMINDAHKAN MASALAH UNTUK SEMENTARA?

Pertanyaan ini semakin relevan karena sebelumnya pemerintah sudah melakukan penertiban dan pembinaan terhadap PKL di sejumlah titik.

Kalau setelah penertiban aktivitas kembali muncul, maka yang harus diperiksa bukan hanya pedagangnya.

SISTEM PENGAWASANNYA JUGA HARUS DIBONGKAR.

BAB I — AWAL PERSOALAN: TROTOAR DAN RUANG PUBLIK KEMBALI DIPERTANYAKAN

Trotoar pada prinsipnya disediakan untuk pejalan kaki.

Ketika ruang tersebut digunakan untuk lapak, gerobak, meja, kursi atau aktivitas perdagangan yang mengganggu fungsi pedestrian, persoalannya tidak lagi sebatas urusan ekonomi masyarakat kecil.

Ini menyangkut:

– fungsi fasilitas umum;
– keselamatan pejalan kaki;
– ketertiban umum;
– penataan kawasan;
– konsistensi penegakan aturan;
– dan tanggung jawab pemerintah dalam melakukan pengawasan.
Masyarakat tentu memahami bahwa PKL mencari nafkah.
Namun pemerintah juga memiliki kewajiban memastikan aktivitas ekonomi tidak mengorbankan hak masyarakat lainnya.

Di sinilah seharusnya negara hadir:

BUKAN MEMATIKAN USAHA RAKYAT, TETAPI MENATA AGAR SEMUA MEMILIKI RUANG.
BAB II — KRONOLOGI: DARI PENERTIBAN HINGGA PKL KEMBALI

JANUARI 2026 — SIPON SUDAH PERNAH DITERTIBKAN

Kawasan Sipon bukan wilayah yang baru sekarang mendapat perhatian.
Jajaran Satpol PP Kota Tangerang sebelumnya telah melakukan operasi penertiban terkait ketenteraman dan ketertiban umum di kawasan tersebut.
Artinya, persoalan PKL di Sipon sudah masuk radar pemerintah.
Namun pertanyaan investigasinya sederhana:

SETELAH OPERASI SELESAI, APA YANG TERJADI?

Apakah dilakukan pengawasan rutin?
Apakah PKL didata?
Apakah dilakukan evaluasi?
Apakah lokasi tersebut kembali dipantau?
Jika aktivitas kembali muncul, publik berhak mengetahui jawabannya.

JUNI 2026 — GOR GONDRONG KEMBALI MENJADI PERHATIAN

Persoalan kemudian berkembang ke kawasan GOR Gondrong.
Pemerintah Kota Tangerang melalui jajaran Kecamatan Cipondoh melakukan penertiban terhadap PKL di kawasan tersebut.
Pendekatan persuasif dan tahapan pembinaan disebut menjadi bagian dari proses penertiban.
Secara prinsip, pendekatan tersebut dapat dipahami.
Tetapi investigasi tidak berhenti pada hari ketika petugas turun ke lapangan.

Karena pertanyaan terpenting justru muncul SETELAH PETUGAS MENINGGALKAN LOKASI.

Apakah pengawasan berjalan?
Apakah pedagang kembali?
Apakah ada petugas yang melakukan monitoring?
Apakah ada titik yang kemudian menjadi lokasi perdagangan kembali?

Jika jawabannya iya, maka pemerintah perlu menjelaskan mengapa pola tersebut terus berulang.

BAB III — JULI 2026: PERSOALAN SEMAKIN MEMANAS

Memasuki Juli, sorotan masyarakat terhadap persoalan PKL dan ketertiban umum di wilayah Cipondoh semakin kuat.
Muncul berbagai keluhan mengenai aktivitas PKL, penggunaan ruang publik dan efektivitas penertiban.
Masyarakat mulai mempertanyakan bukan hanya keberadaan pedagang, tetapi juga konsistensi pemerintah setelah operasi penertiban dilakukan.

Dalam konteks pengawasan publik, persoalannya kemudian berubah:

Dari semula:

“KENAPA PKL BERJUALAN DI SANA?”

menjadi:

“KENAPA PEMERINTAH TIDAK MAMPU MEMASTIKAN ATURAN BERJALAN SECARA KONSISTEN?”

Ini dua persoalan yang berbeda.
Pedagang memiliki alasan ekonomi.
Pemerintah memiliki kewenangan dan tanggung jawab penataan.

Keduanya harus ditempatkan secara proporsional.

BAB IV — AGUSTUS 2026: PKL KEMBALI, PUBLIK MULAI BERTANYA KERAS

Memasuki Agustus 2026, aktivitas PKL kembali menjadi sorotan.

Titik yang menjadi perhatian antara lain:

Poris Plawad Utara — Sipon — GOR Gondrong.

Jika kondisi lapangan kembali memperlihatkan penggunaan ruang publik untuk aktivitas perdagangan, maka publik wajar mempertanyakan efektivitas pengawasan.

Sebab operasi penertiban tanpa pengawasan berkelanjutan berpotensi melahirkan siklus yang sama:

TERTIBKAN → BUBAR → PETUGAS PERGI → KEMBALI BERJUALAN → MASYARAKAT MENGELUH → TERTIBKAN LAGI.

Kalau siklus tersebut terus terjadi, maka pemerintah perlu melakukan evaluasi serius.
Bukan untuk mencari kambing hitam.
Tetapi untuk mencari akar persoalan.

BAB V — PERTANYAAN BESAR: APAKAH PENERTIBAN HANYA SEREMONIAL?

Ini bagian paling penting dari investigasi.

Tidak boleh sembarang menyimpulkan bahwa penertiban adalah pencitraan tanpa bukti.
Namun publik berhak mengajukan pertanyaan:
Apa indikator keberhasilan operasi penertiban?
Apakah keberhasilan hanya diukur dari jumlah petugas yang turun?
Apakah diukur dari jumlah lapak yang dibongkar?
Atau keberhasilan seharusnya dilihat dari kondisi kawasan beberapa minggu setelah operasi?

Jika ukuran keberhasilan adalah kondisi kawasan yang kembali tertib, maka monitoring pascapenertiban menjadi sangat penting.

Karena itu, pemerintah perlu membuka data dan evaluasinya kepada publik.

BAB VI — SATPOL PP DITANTANG MEMBUKA DATA

Daripada perang pernyataan, lebih baik pemerintah menunjukkan data.

Publik ingin tahu:

Berapa PKL yang terdata di Cipondoh?
Berapa yang berada di Poris Plawad Utara?
Berapa di Sipon?
Berapa di sekitar GOR Gondrong?
Berapa yang sudah diberi teguran?
Berapa yang sudah dibina?
Berapa yang sudah ditata ke lokasi alternatif?
Berapa yang kembali melanggar setelah penertiban?
Berapa kali monitoring dilakukan setelah operasi?

Dan yang paling penting:

APA HASIL EVALUASI PENERTIBAN SEBELUMNYA?
Jika data tersebut tersedia, bukalah.
Jika belum tersedia, jelaskan mengapa.
PUBLIK TIDAK MEMBUTUHKAN KLAIM. PUBLIK MEMBUTUHKAN BUKTI.

BAB VII — JANGAN HANYA MENYALAHKAN PKL

Investigasi yang sehat juga harus melihat sisi pedagang.

Tidak semua PKL dapat dipukul rata sebagai pelanggar yang harus disingkirkan.

Sebagian mungkin hanya mencari nafkah.

Karena itu pemerintah harus menjelaskan:
Di mana mereka harus berjualan?
Apakah tersedia lokasi relokasi?
Bagaimana mekanisme penataannya?
Apakah pedagang mendapatkan pembinaan?
Apakah ada komunikasi resmi dengan para pedagang?

Jika pemerintah hanya melakukan penertiban tanpa memberikan solusi penataan yang jelas, persoalan kemungkinan akan terus berulang.
Hari ini ditertibkan.
Besok pindah.
Lusa kembali.
Minggu depan muncul lagi di titik berbeda.

Itu bukan penyelesaian. Itu hanya perpindahan masalah.

BAB VIII — MARWAH SATPOL PP DIPERTARUHKAN

Inilah titik paling keras dalam investigasi ini.
Yang dipertanyakan bukan keberadaan Satpol PP.
Yang dipertanyakan adalah efektivitas penegakan aturan di lapangan.
Ketika masyarakat melihat aktivitas yang sama berulang, kepercayaan terhadap penegakan aturan dapat ikut dipertaruhkan.

Sebab kewibawaan institusi tidak dibangun melalui seragam.
Tidak dibangun melalui apel.
Tidak dibangun melalui kendaraan operasional.
Tidak pula dibangun melalui foto operasi.

WIBAWA DIBANGUN DARI KONSISTENSI.

Kalau aturan diterapkan hari ini, maka harus ada pengawasan besok.
Kalau pedagang sudah dibina, harus ada tindak lanjut.
Kalau kawasan sudah ditertibkan, harus ada monitoring.

Kalau pelanggaran kembali terjadi, harus ada tindakan sesuai prosedur.
BAB IX — JANGAN SAMPAI ADA RUANG UNTUK PERSEPSI PEMBIARAN

Satu hal perlu ditegaskan:

Kembali munculnya PKL tidak otomatis membuktikan adanya pembiaran oleh aparat.
Bisa saja persoalannya berasal dari keterbatasan personel, luas wilayah pengawasan, mobilitas pedagang, persoalan ekonomi, atau faktor penataan lainnya.
Namun justru karena banyak kemungkinan itulah pemerintah wajib memberikan penjelasan.

Jangan biarkan ruang kosong informasi diisi oleh asumsi masyarakat.

Karena ketika pemerintah diam, persepsi publik dapat berkembang sendiri.

Dan ketika persepsi sudah berkembang, kepercayaan menjadi taruhannya.

BAB X — MEDIA BUKAN MUSUH PEMERINTAH

Ketika wartawan bertanya mengenai kondisi lapangan, pertanyaan tersebut merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial.
Pemerintah tidak perlu alergi terhadap kritik.
Justru pejabat publik memiliki kesempatan menjelaskan fakta kepada masyarakat melalui media.

Jika kondisi memang tertib:

TUNJUKKAN DATA.

Jika ada pelanggaran:

JELASKAN PENANGANANNYA.

Jika ada kendala:
Sampaikan kepada publik.
Jika ada program penataan:
Buka informasinya.

Transparansi jauh lebih kuat daripada membiarkan masyarakat menebak-nebak.

BAB XI — DAFTAR PERTANYAAN KONFIRMASI UNTUK SATPOL PP DAN KECAMATAN CIPONDOH

Media mempertanyakan secara resmi:

1. Apa langkah terbaru Satpol PP terhadap aktivitas PKL di Poris Plawad Utara, Sipon dan GOR Gondrong?

2. Apakah telah dilakukan monitoring pascapenertiban sebelumnya?

3. Berapa jumlah PKL yang telah terdata?

4. Apakah seluruh PKL tersebut telah diberikan pembinaan dan teguran sesuai prosedur?

5. Apakah pemerintah menyediakan lokasi alternatif bagi PKL yang ditertibkan?

6. Bagaimana mekanisme pengawasan agar PKL tidak kembali menggunakan trotoar?

7. Apakah ada petugas yang ditugaskan melakukan pengawasan rutin?

8. Bagaimana evaluasi pemerintah terhadap penertiban sebelumnya?

9. Apakah terdapat kendala personel atau teknis di lapangan?

10. Apa target pemerintah terhadap penataan PKL di Kecamatan Cipondoh?

Dan pertanyaan terakhir:

APAKAH PEMERINTAH MENGANGGAP KONDISI PKL YANG KEMBALI MENGGUNAKAN RUANG PUBLIK SAAT INI SEBAGAI PELANGGARAN YANG HARUS SEGERA DITINDAK, ATAU ADA KEBIJAKAN PENATAAN TERTENTU?

Jawaban atas pertanyaan tersebut penting agar masyarakat mendapatkan informasi yang utuh
EPILOG — TANGERANG TIDAK BUTUH SEREMONI, TANGERANG BUTUH KONSISTENSI

Persoalan PKL di Cipondoh bukan sekadar cerita tentang pedagang kecil.

Ini adalah ujian bagi pemerintah dalam menyeimbangkan ketertiban umum, hak pejalan kaki, kepentingan ekonomi rakyat dan konsistensi penegakan aturan.
Masyarakat tidak meminta pedagang dimusuhi.
Masyarakat juga tidak meminta aparat bertindak sewenang-wenang.

Yang diminta sederhana:
ATURANNYA JELAS.
PENATAANNYA JELAS.
PENGAWASANNYA JELAS.
PENINDAKANNYA JELAS.
Dan yang paling penting:
JANGAN ADA TEBANG PILIH.

Jika trotoar memang diperuntukkan bagi pejalan kaki, maka kembalikan fungsi trotoar.

Jika PKL harus ditata, lakukan secara manusiawi.
Jika aturan dilanggar, tegakkan sesuai ketentuan.
Jika pemerintah memiliki solusi, sampaikan kepada publik.
Karena negara tidak boleh hadir hanya ketika kamera menyala.

NEGARA HARUS HADIR KETIKA MASYARAKAT MEMBUTUHKANNYA.

Dan kepada jajaran penegak ketertiban di Kota Tangerang:
Jangan biarkan masyarakat bertanya terlalu lama.
Jangan biarkan ruang publik kehilangan fungsinya.
Jangan biarkan penertiban berubah menjadi siklus tanpa akhir.
Sebab yang sedang diuji bukan hanya keberadaan PKL.

YANG SEDANG DIUJI ADALAH KONSISTENSI PEMERINTAH DALAM MENEGAKKAN ATURAN.

TANGERANG BERTANYA.

CIPONDOH MENUNGGU JAWABAN.
MEDIA AKAN TERUS MENGAWAL.
DAN PUBLIK MENUNGGU BUKTI, BUKAN JANJI OMON – OMON .

RED David E,S.E.

Bupati Aceh Timur Gelar Acara Turun Tanah Dan Peucicap Putra Ke-5

0

Bupati Aceh Timur Gelar Acara Turun Tanah Dan Peucicap Putra Ke-5

 

ACEH TIMUR –Mediaistan.com 

Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan menyelimuti acara Turun Tanah dan Peucicap Ananda Muhammad El-Ziyan Iskandar, putra Bupati Aceh Timur ke-5, yang berlangsung di kediaman resmi Bupati Aceh Timur, Senin (10/8/2026).

 

Acara adat Aceh tersebut merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas kelahiran seorang anak, sekaligus menjadi momentum untuk memanjatkan doa agar anak tumbuh sehat, menjadi pribadi yang baik, serta memiliki akhlak mulia.

 

Turut hadir dalam acara tersebut seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur. Kehadiran para kepala dinas, badan, serta jajaran instansi terkait turut mempererat silaturahmi sekaligus menjadi bentuk dukungan dan kebersamaan bersama keluarga besar Bupati Aceh Timur.

 

Dalam suasana penuh keakraban dan haru, para tamu undangan turut memanjatkan doa terbaik bagi Ananda Muhammad El-Ziyan Iskandar.

 

“Semoga Muhammad El-Ziyan Iskandar tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, berakhlak mulia, serta menjadi kebanggaan keluarga, agama, dan masyarakat Aceh Timur,” ujar salah seorang perwakilan OPD yang hadir.

 

Prosesi Turun Tanah dan Peucicap berlangsung secara khidmat dengan tetap mengedepankan nilai-nilai adat dan budaya Aceh. Rangkaian acara berjalan lancar dan ditutup dengan ramah tamah bersama keluarga serta para tamu undangan.