.Mediaistana.com – Pangandaran – Minggu 22: February 2026 – Indonesia menghadapi tantangan besar di era digital. Di ruang-ruang kelas, di sudut rumah, bahkan di tempat ibadah sekalipun, pemandangan anak-anak dan pelajar yang menunduk menatap layar handphone sudah menjadi hal biasa. Game daring, media sosial, dan arus informasi tanpa batas seakan “membius” pikiran generasi muda.
Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup, tetapi persoalan serius yang menyangkut masa depan bangsa.
Secara konstitusional, negara memiliki tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Artinya, pemerintah tidak bisa sekadar menjadi penonton di tengah derasnya arus digitalisasi yang tanpa filter.
Melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, penguatan literasi digital dan pendidikan karakter harus dijalankan secara konkret dan berkelanjutan. Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika dituntut lebih tegas dalam pengawasan serta pengendalian konten negatif yang mudah diakses pelajar.
Namun, tanggung jawab terbesar tetap berada di lingkungan keluarga.
Ketua OKK Maung Garuda Nusantara (MGN), David E, SE, menyampaikan himbauan dan saran tegas kepada seluruh orang tua dan wali murid agar tidak lengah terhadap perkembangan digital anak-anak mereka.
“Kami menghimbau kepada orang tua dan wali murid agar lebih ekstra, bahkan lebih ketat dalam mengawasi penggunaan handphone di rumah. Pantau aktivitas anak-anak setiap hari, ketahui apa yang mereka akses, siapa yang mereka ajak berinteraksi di media sosial, dan berapa lama waktu yang mereka habiskan di depan layar,” tegas David E, SE.
Ia juga menambahkan bahwa pengawasan harus disertai dengan dorongan positif.
“Orang tua harus aktif mendorong anak-anaknya untuk lebih banyak belajar, membaca, berdiskusi, dan mengikuti kegiatan yang membangun karakter. Jangan sampai waktu mereka habis hanya untuk game dan media sosial. Masa depan mereka ditentukan oleh disiplin hari ini,” tambahnya.
Menurutnya, pengawasan yang lebih “ekstrim” bukan berarti keras tanpa arah, tetapi tegas, konsisten, dan penuh tanggung jawab. Orang tua perlu membuat aturan jam belajar, jam bermain, serta membatasi akses di waktu-waktu tertentu, terutama pada malam hari.
Dampak dari kelalaian pengawasan sudah mulai terlihat:
Menurunnya semangat belajar
Ketergantungan terhadap game online
Minimnya interaksi sosial langsung
Tergerusnya nilai sopan santun dan etika
Teknologi tidak salah. Namun tanpa kontrol dan nilai moral, ia bisa menjadi ancaman nyata bagi kualitas generasi bangsa.
Negara, sekolah, dan masyarakat harus berjalan beriringan. Tetapi keluarga tetap menjadi fondasi utama.
Jika rumah kuat, maka anak akan kuat menghadapi tantangan zaman.
Ini bukan sekadar persoalan gadget, melainkan persoalan arah masa depan Indonesia.
Penulis.David emman.